27 Feb 2011

Trio Mukhlisin

Abdullah bin ‘Umar r.a. berkata: Saya telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: Terjadi pada masa dahulu sebelum kamu, tiga orang berjalan-jalan hingga terpaksa bermalam didalam sebuah gua. Tiba-tiba ketika mereka sedang didalam gua itu, jatuh sebuah batu besar dari atas bukit dan menutupi pintu gua itu, hingga mereka tidak dapat  keluar. Maka berkatalah mereka: Sungguh tiada yang dapat menyelamatkan kami dari bahaya ini, kecuali jika tawassul kepada Allah dengan amal-amal shalih yang pernah kamu lakukan dahulu kala. Maka berkata seorang dari mereka: Ya Allah dahulu saya mempunyai ayah dan ibu, dan saya tidak biasa memberikan minuman susu pada seorangpun sebelum keduanya (ayah-ibu), baik pada keluarga atau hamba sahaya, maka pada suatu hari agak kejauhan bagiku menggembala ternak, hingga tidak kembali pada keduanya, kecuali sesudah malam ayah dan bundaku telah tidur. Maka saya terus memerah susu untuk keduanya, dan sayapun tidak akan memberikan minuman itu kepada siapa pun sebelum ayah bunda itu. Maka saya tunggu keduanya itu hingga terbit fajar, maka bangunlah keduanya lalu minum dari susu yang saya perahkan itu. Padahal semalam itu juga anak-anakku sedang menangis minta susu itu, dari dekat kakiku. Ya Allah jika saya berbuat benar-benar karena mengharapkan keridlaanMu, maka lapangkanlah keadaan kami ini. Maka menyisih sedikit batu itu, hanya saja mereka belum dapat keluar dari padanya.

Berdo’a yang kedua: Ya Allah dahulu saya pernah terikat cinta kasih pada anak gadis pamanku, maka karena sangat cinta kasihku, saya selalu merayu dan ingin berzina kepadanya, tetapi ia selalu menolak hingga terjadi pada suatu saat ia menderita kelaparan dan minta bantuan kepadaku, maka saya berikan padanya uang seratus duapuluh dinar, tetapi dengan janji bahwa ia akan menyerahkan dirinya kepadaku malam harinya. Kemudian ketika saya telah berada diantara dua kakinya, tiba-tiba ia berkata: Takutlah kepada Allah dan jangan kau pecahkan tutup kecuali dengan halal. Maka saya segera bangun daripadanya padahal saya masih tetap menginginkanya, dan saya tinggalkan dinar mas yang telah saya berikan kepadanya itu. Ya Allah bila saya berbuat itu semata-mata karena mengharap ridhoMu, maka hindarkanlah kami dari kemalangan ini. Maka bergeraklah batu itu menyisih sedikit, tetapi mereka belum juga dapat keluar daripadanya.
Berdo’a yang ketiga: Ya Allah saya dahulu sebagai majikan, mempunyai banyak buruh pegawai, dan pada suatu hari ketika saya membayar upah buruh-buruh itu, tiba-tiba ada seorang dari mereka yang tidak sabar menunggu, segera dia meninggalkan upah dan terus pulang kerumahnya tidak kembali. Maka saya pergunakan upah itu hingga bertambah dan berbuah hingga merupakan kekayaan. Kemudian setelah lama datanglah buruh itu berkata: Hai Abdullah berilah kepadaku upahku dahulu itu? Jawabku: Semua kekayaan yang ada didepanmu itu daripada upahmu yang berupa unta, lembu dan kambing serta budak penggembalanya itu.
Berkata orang itu: Hai Abdullah kau jangan mengejek kepadaku. Jawabku: Aku tidak mengejek kepadamu. Maka diambilnya semua yang saya sebut itu dan tidak meninggalkan satupun daripadanya. Ya Allah jika saya berbuat itu demi keridhaanMu , maka hindarkan kami dari kesempatan ini. Tiba-tiba menyisihlah batu itu hingga keluar mereka dengan selamat. (Buchary, Muslim)  Dikutip dari: “Tarjamah Riadhus Shalihin” karangan Salim Bahreisy

16 Feb 2011

Becoming “Adigang Adigung Adiguna” Person


Judulnya aku keren deh ah!! haha, piss tantee ini mikirnya ada 24 jam ga tidur dua hari tiga malem non stop loo (doohh, keliatan banget boongnya ya!)

Kenapa pakai judul itu? Karena “Adigang Adigung Adiguna” adalah peribahasa yang sangat terkenal menurut pandangan saya. Alasannya? Sering banget muncul waktu saya ulangan pas SD dulu. Hei, itu terkenal lo dikalangan kelas saya. Heran juga, siapa sih yang nyiptain, kalau ketemu saya mau kasih beliaunya tepuk tangan yang luar biasa heboh. Menciptakan suatu peribahasa yang mempunyai makna yang sangat dalam dengan diksi yang sangat indah didengar mata. Dengan Triple-A diawal tetapi sajak yang berbeda dibelakang. Keren. Tunggu, tunggu, adakah yang belum tahu artinya? Kok bisa? Memang sih ini peribahasa Jawa. Baiklah, saya nyerah ternyata ada yang belum tahu artinya. Artinya adalah ”Wong sing ngandelake kekuwatan, kaluhuran lan kapinterane”.

Menjadi seseorang yang mampu menjadi “Adigang Adigung Adiguna” bukanlah persoalan yang mudah. Jika ada orang yang punya Adigang, dia tak punya Adigung dan Adiguna. Jika punya Adiguna, dia tak punya Adigung atau Adigang. Begitu seterusnya. Memang sulit menjadi seseorang yang sempurna. Selalu saja ada banyak tempaan. Manusia masih mempunyai “Ghorizah” yang memang diciptakan Allah untuk menguji mana hambanya yang beriman. Apa salahnya kita mencoba? Ya kan. Adigang Adigung Adiguna adalah perwujudan dari keimanan, ketakwaan, dan kepatuhan terhadap apa yang telah diajarkan agama selama ini.

Adigang, mewujudkan kekuatan seorang yang mempunyai kekuasaan. Kekuasaan yang menjadikannya terhormat dan dihormati. Kemauan apa yang diinginkannya akan selalu terpenuhi karena kekuasaan yang dimilikinya. Kekuatan yang disalahpahamkan akan menjadikan dirinya seorang yang angkuh dan bengis. Menindas orang kecil dan lemah. Berbuat apapun sekehendak hatinya tanpa merasa bersalah dan berdosa. Merasa hidupnya ada di awang-awang. Luas dan tanpa batas. Menabrak, mengobrak-abrik tatanan kehidupan yang tertib. Akibatnya, hancur orang itu.

Karena itulah, dibutuhkan Adigung untuk orang tersebut. Sebagai buffer yang menjadi dapar supaya tidak berbuat seenak hati. Adigung adalah perwujudan sifat baik. Apik. Jika orang tersebut mempunyai kekuasaan, kekuatan tapi juga diimbangi dengan sifat yang siip dia benar-benar akan menjadi orang yang dihormati sepanjang masa. Karena dia berkuasa, sifatnya juga luhur, menyayangi yang lemah, takwa, taat pada agama, keren banget lah. Eits, orang kalau terlalu baik juga ga bagus lo!!. Ada orang datang memelas-melas minta bantuan, ga kira-kira dianya minta seluruh harta dan kekuasaan buat dia. Gara-gara dia terlalu baik, semua bakal dikasiin juga tuh. Kaya Indonesia nih, dibohongin orang luar negeri mau aja, terlalu baik Indonesia mah.

Nah, butuhlah sifat yang terakhir, yaitu, Adiguna yaitu orang yang pintar. Biar nggak gampang dibohongin orang. Kalau ini salah, tahu yang bener yang mana. Saya pernah denger dari pak Mario Teguh, katanya gini, “kalau orang yang mempunyai ilmu yang banyak, maka dia akan mengetahui banyak kesalahan sehingga dia tidak akan menjalankan kesalahan itu, dia justru akan berbuat yang terbaik”. Tuh, kalau jadi orang berilmu asyik. Ayo cari ilmu, biar pinter. Ada persyaratanya: orang yang pintar tapi tidak punya kebaikan, dia justru akan menyombongkan ilmu yang dimilikinya. Percuma kalau berilmu tapi Cuma untuk bangga-banggaan, mala tidak akan barokah. Ada lagi kalau orang pintar tidak punya kekuasaan, dia juga tidak bisa mengubah dunia untuk menjadi lebih baik. Makanya, dia juga butuh Adigang dan Adiguna.

Akhir, Kita harus punya ketiganya untuk menjadi pribadi yang TOP. Ada banyak filsafat jawa yang akan menuntun kehidupan kita menjadi lebih baik. Adigang Adigung Adiguna hanyalah sebagian kecil dari itu semua. Ada yang mau mencoba menjadi Adigang Adigung Adiguna?? Kita harus lo! Sebagai seorang remaja kita wajib mempunyai Adigang Adigung Adiguna untuk mengubah dunia. Karena apa?? Karena I WANT TO CHANGE THE WORLD. Seperti lagunya soundtracknya Inuyasha. (Aldila)

16 Jan 2011

Nabi Zakaria a.s

Masa yang dialami oleh Nabi Zakaria adalah masa yang aneh di mana banyak hal yang berlawanan yang berhadap-hadapan dan saling bertentangan serta terlibat pertarungan yang tidak pernah padam. Keimanan kepada Allah SWT bercahaya di mesjid yang besar di Baitul Maqdis, sedangkan kebohongan memenuhi pasar-pasar Yahudi yang bersebelahan dengan mesjid itu. Sudah menjadi tradisi dunia bahwa segala sesuatu yang bertentangan mesti saling berhadapan pada: kebaikan dengan kejahatan, cahaya dengan kegelapan, kebenaran dengan kebohongan, para nabi dengan para pembangkang.


Alhasil, segala sesuatu berhadapan untuk mempertahankan kehidupan. Di masa yang kuno ini terdapat seorang nabi dan seorang alim yang besar. Nabi yang dimaksud adalah Zakaria sedangkan seorang alim besar yang Allah SWT memilihnya untuk salat di tengah-tengah manusia adalah Imran. Imran adalah seorang suami dan istrinya sangat berharap untuk melahirkan anak. Waktu pagi menyelimuti kota, keluarlah istri Imran untuk memberikan makan kepada burung dan ia melihat pamandangan yang ada di sekitarnya dan mulai merenungkannya. Di sana terdapat seekor burung yang memberi makan anaknya dengan cara menyuapinya dan memberinya minum. Burung itu melindungi anaknya di bawah sayapnya karena khawatir dari kedinginan. Ketika melihat pemandangan itu, istri Imran berharap agar Allah SWT memberinya anak. Ia mengangkat tangannya dan mulai berdoa agar Allah SWT menganugerahinya seorang anak lelaki. Allah SWT mengabulkan doanya dan pada suatu hari ia merasa bahwa ia sedang hamil lalu kegembiraan menyelimutinya dan ia bersMikur kepada Allah SWT:

"(Ingatlah) ketika istri Imran berkata: 'Ya Tuhanhu, sesungguhnya aku telah menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi anak yang saleh dan berkhidmat (di Baitil Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.'" (QS. Ali 'Imran: 35)

Ia bernazar agar anaknya menjadi seorang pembantu di mesjid sepanjang hidupnya yang mengabdi kepada Allah SWT dan mengabdi kepada rumah-Nya, yaitu masjid. Lalu tibalah hari kelahiran. Istri Imran melahirkan seorang anak perempuan. Istri itu merasa terkejut karena ia menginginkan seorang anak lelaki yang dapat mengabdi untuk mesjid dan beribadah di dalamnya. Ketika ia melihat bahwa anaknya seorang perempuan, maka ia tetap menjalankan nazarnya, meskipun anak lelaki bukan seperti anak perempuan:

"Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu, dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya ahu telah menamai dia Maryam." (QS. Ali Imran: 36)

Allah SWT mendengar doa istri Imran; Allah SWT mendengar apa yang kita ucapkan dan apa yang kita bisikkan dalam diri kita, bahkan apa yang kita inginkan untuk kita ucapkan dan kita tidak melakukannya. Semua itu diketahui oleh Allah SWT. Allah SWT mendengar bahwa istri Imran memberitahu-Nya bahwa ia melahirkan anak perempuan dan Allah SWT lebih mengetahui tentang anak yang dilahirkannya. Allah SWT-lah yang memilihkan jenis kelamin anak yang lahir di mana Dia menciptakan anak laki-laki atau perempuan. Allah SWT mendengar bahwa istri Imran berdoa kepada-Nya agar Dia menjaga anak perempuan ini yang dinamakan Maryam dan juga menjaga keturunannya dari setan yang terkutuk:

"Dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari setan yang terkutuk. maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya." (QS. Ali 'Imran: 36- 37)

Allah SWT mengkabulakn doa istri Imran dan ibu Maryam. Allah SWT menyambut Maryam dengan penyambutan yang baik dan memberinya keturunan yang baik. Allah SWT berkehendak melalui rahmat-Nya untuk menjadikan perempuan ini sebagai wanita terbaik di muka bumi dan menjadikan ibu dari seorang nabi yang kelahirannya merupakan mukjizat terbesar seperti kelahiran Nabi Adam. Nabi Adam lahir tanpa seorang ayah atau ibu, sedangkan Nabi Isa lahir tanpa seorang ayah. Nabi Isa berasal dari ibu yang suci yang belum menikah, yang belum disentuh oleh manusia.

Mula-mula kelahiran Maryam mendatangkan sedikit problem. Imran telah mati sebelum kelahiran Maryam dan para ulama di zaman itu dan para pembesar ingin mendidik Maryam. Setiap orang berlomba-lomba untuk mendapatkan kemuliaan ini, yaitu mendidik seorang perempuan dari seorang lelaki besar vang mereka hormati. Zakaria berkata: "Biarkan aku yang mengasuhnya karena ia adalah kerabat dekatku. Istriku adalah bibinya dan aku adalah seorang Nabi dari umat ini. Aku lebih utama daripada kalian untuk mengasuhnya." Lalu para ulama dan para guru berkata: "Mengapa tidak seorang di antara kami yang mengasuhnya. Kami tidak akan membiarkan engkau mendapatkan keutamaan ini tanpa persetujuan dari kami." Hampir saja mereka berselisih dan bertarung kalau seandainya mereka tidak menyepakati diadakannya undian. Yakni, seseorang yang mendapatkan undian, maka itulah yang akan mengasuh Maryam.

Diadakanlah undian. Maryam diletakkan di atas tanah dan diletakkan di sebelahnya pena-pena orang-orang yang ingin mengasuhnya. Kemudian mereka menghadirkan anak kecil lalu anak kecil itu mengeluarkan pena Zakaria. Zakaria berkata: "Allah SWT memutuskan agar aku mengasuhnya." Para ulama dan para Syekh berkata: "Tidak, undian harus dilakukan tiga kali." Mereka mulai berpikir tentang undian yang kedua. Setiap orang mengukir namanya di atas pena kayu dan mereka berkata, kita akan melemparkan pena-pena kita di sungai, maka siapa yang penanya menantang arus, itulah yang menang:

"Padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa." (QS. Ali 'Imran: 44)

Mereka pun melemparkan pena-pena mereka di sungai sehingga pena-pena itu berjalan bersama arus, kecuali pena Zakaria yang menantang arus. Zakaria merasa bahwa mereka akan puas tetapi mereka bersikeras untuk mengadakan undian yang ketiga kali. Mereka berkata: "Kita akan melemparkan pena-pena kita di sungai. Pena yang berjalan bersama arus, maka itulah yang akan mengasuh Maryam." Mereka pun melemparkan pena-pena mereka dan semua berjalan menantang arus, kecuali pena Zakaria. Akhirnya, mereka menyerah kepada Zakaria dan mereka menyerahkan anak itu kepadanya agar Zakaria mengasuhnya. Nabi Zakaria mulai mengasuh Maryam dan mendidiknya serta menghormatinya sampai ia dewasa. Maryam memiliki tempat khusus di dalam mesjid. Ia mempunyai suatu mihrab yang di situ ia beribadah. Jarang sekali ia meninggalkan tempatnya. Ia selalu beribadah dan salat di dalamnya serta berzikir dan bersyukur dan menuangkan cintanya kepada Allah SWT. Terkadang Zakaria mengunjunginya di mihrab. Tiba-tiba, pada suatu hari Zakaria menemuinya dan ia melihat sesuatu yang mencengangkan. Saat itu musim panas tetapi Nabi Zakaria menemui di tempat Maryam buah-buahan musim dingin, dan pada kesempatan yang lain ia menemui buah-buahan musim panas sedangkan saat itu musim dingin. Zakaria bertanya kepada Maryam: "Darimana datangnya rezeki ini?" Maryam menjawab: "Bahwa itu berasal dari Allah SWT." Pemandangan seperti ini berulang lebih dari sekali:

"Setiap Zakaria masuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya." (QS. Ali 'Imran: 37)

Nabi Zakaria adalah seorang tua dan rambutnya sudah dikelilingi uban. Ia merasa bahwa tidak lama lagi hidupnya akan berakhir dan istrinya, bibi Maryam, adalah seseorang wanita tua sepertinya yang belum melahirkan seseorang pun dalam hidupnya karena ia wanita yang mandul. Nabi Zakaria menginginkan agar ia mendapatkan seorang anak laki-laki yang akan mewarisi ilmunya dan akan menjadi nabi yang dapat membimbing kaumnya dan berdakwah kepada mereka untuk mengikuti Kitab Allah SWT.

Zakaria tidak menyampaikan keinginan ini kepada seseorang pun, bahkan kepada istrinya, tetapi Allah SWT mengetahuinya sebelum pikiran itu disampaikan. Pada pagi itu Zakaria menemui Maryam di mihrabnya, lalu ia mendapati buah-buahan yang sebenarnya sudah tidak musim. Zakaria bertanya kepada Maryam:

"Zakaria berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah." Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya." (QS. Ali 'Imran: 37-38)

Zakaria berkata pada dirinya Maha Suci Allah SWT dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Lalu kerinduan mulai menyelimuti hatinya dan ia mulai menginginkan keturunan. Nabi Zakaria berdoa kepada Tuhannya:

"(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engka u, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeningalku, sedang istriku adalah seseorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akmi mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Yakub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorangyang diridahi. " (QS. Maryam: 2-6)

Nabi Zakaria meminta kepada Penciptanya tanpa mengangkat suara keras-keras agar Dia memberinya seorang lelaki yang mewarisi kenabian dan hikmah serta keutamaan dan ilmu. Nabi Zakaria khawatir kaumnya akan tersesat setelahnya di mana tidak ada seorang nabi setelahnya. Allah SWT mengkabulkan doa Zakaria. Belum lama Nabi Zakaria berdoa kepada Allah SWT hingga malaikat memanggilnya saat ia salat di mihrab:

"Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (memperoleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia." (QS. Maryam: 7)

Zakaria kaget dengan berita ini, bagaimana ia dapat memiliki seorang anak. Karena saking gembiranya Zakaria sangat terguncang dan dengan penuh keheranan ia bertanya:

"Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal istriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua." (QS. Maryam: 8)

Ia heran bagaimana ia dapat melahirkan sementara ia sudah tua dan istrinya pun wanita yang mandul:

"Tuhan berfirman: 'Demikianlah.' Tuhan berfirman: 'Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali." (QS. Maryam; 9)

Para malaikat memberitahunya bahwa ini terjadi karena kehendak Allah SWT dan kehendak-Nya pasti terlaksana. Tidak ada sesuatu pun yang sulit bagi Allah SWT. Segala sesuatu yang diinginkan di alam wujud ini pasti terjadi. Allah SWT telah menciptakan Zakaria sebelumnya dan beliau pun sebelumnya tidak pernah ada. Segala sesuatu diciptakan Allah SWT hanya dengan kehendak-Nya:

"Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah herkata kepadanya: 'Jadilah!', maka jadilah ia. " (QS. Yasin: 82)

Hati Nabi Zakaria dipenuhi rasa syukur kepada Allah SWT dan ia pun memuji-Nya. Lalu ia meminta kepada Allah SWT agar memberinya tanda-tanda:

"Zakaria berkata: Ya Tuhanku, berilah suatu tanda.' Tuhan berfirman: 'Tanda bagimu adalah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat.' Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang." (QS. Maryam: 10-11)

Allah SWT memberitahunya bahwa akan terjadi tiga hari di mana di dalamnya ia tidak mampu berbicara, padahal saat itu ia sehat-sehat saja tidak sakit. Jika hal ini terjadi padanya, maka hendaklah ia yakin bahwa istrinya hamil dan bahwa mukjizat Allah SWT benar-benar terwujud. Kemudian hendaklah saat itu ia berbicara kepada manusia melalui isyarat dan banyak bertasbih kepada Allah SWT di waktu pagi dan sore.

Zakaria keluar pada suatu hari kepada manusia dan hatinya dipenuhi dengan syukur. Ia ingin berbicara dengan mereka namun ia mengetahui bahwa ia tidak mampu berbicara. Zakaria mengetahui bahwa mukjizat Allah SWT telah terwujud lalu ia mengisyaratkan kepada kaumnya agar mereka bertasbih kepada Allah SWT di waktu pagi dan sore. Ia pun selalu bertasbih kepada Allah SWT dalam hatinya. Zakaria merasakan kegembiraan yang sangat dalam. Malaikat memberitahunya tentang kelahiran seorang anak lelaki yang Allah SWT menamakannya Yahya. Untuk pertama kalinya kita di hadapan seorang anak yang ayahnya tidak memberikan nama kepadanya dan ibunya pun tidak memilihkan nama untuknya, tetapi Allah SWT-lah yang memberinya nama. Dengan kemuliaan yang agung ini, Allah SWT menyampaikan berita gembira kepada Zakaria bahwa anaknya Yahya akan membenarkan kalimat Allah SWT dan akan menjadi seorang yang mulia dan seorang Nabi dari orang-orang yang saleh.

Zakaria gemetar, karena saking gembiranya. Air matanya mulai berlinangan dan jenggotnya yang putih mulai basah. Ia salat kepada Allah SWT sebagai tanda syukur atas pengkabulan doanya dan kelahiran Yahya. http://www.dongengkakrico.com/

12 Jan 2011

Judulnya, Sore yang Indah




Sore yang indah ketika berjalan menyusuri trotoar berdebu. Sesak dengan pedagang yang beradu.

Sore yang indah ketika menikmati perjalanan pulang menuju halte bus sepulang bimbingan belajar yang melelahkan.

Sore yang indah ketika menunggu bus menjemput hingga adzan maghrib menyahut.

Sore yang indah ketika mengamati pemandangan muda-mudi yang saling bergelayutan. Dilain tempat, orangtuanya berjuang mencari keping rupiah bermimpi anaknya bisa sekolah.

Sore yang indah ketika menyaksikan insan-insan mulai menggelar tempat tidurnya yang nyaman dan empuk di emperan toko.

Sore yang indah ketika datanglah angkutan umum yang dinanti.

Sore yang indah meski harus mengalah pada ibu-ibu yang mengajak serta buah hatinya setelah capai berwisata menulusuri pasar demi pimpinan yang semakin menginjak.

Sore yang indah, tak kan ada sore yang bisa mengalahkan perjalan pulang sekolah saya. Sore yang penuh akan intrik dan hikmah jika bisa memahami arti kehidupan yang sesungguhnya. Sore yang tidak dibuang dengan kesia-siaan. Bukan sore yang dinikmati dengan tangan bergelayutan. Tak berfikir bagaimana orangtuaku membelikan baju untuk penampilanku. Tak berfikir bahwa yang dilakukannya hanyalah "bullshit".


Sore yang indah, memang. Disini kau akan mengetahui banyak hal yang menurutmu hanya ada di Televisi. Keadaan tumpah darahmu ini akan membuatmu semakin ingin melepaskan segel "kyubi" yang ada dalam dirimu. Mengaum, berontak dan mencakar wajah parlemen dan pimpinan yang terhormat.

Bagaimana bisa mereka asyik dengan kemewahan dari rakyat yang makan nasi aking hanya untuk mereka yang terhidang puluhan jenis sajian. Tak berfikirkah Tuan dan Nyonya itu akan perhitungan yang akan dijatuhkan kepada mereka?? Berebut kursi pimpinan tak pikirkan akibatnya.

Butuhkah kalian para pemimpin, bimbingan belajar dan pulang sore untuk menikmati sore yang indah????

Sore memang indah, kawan!!!! Senangnya, punya sore yang indah.

1 Des 2010

Your Accessori, Gals!!


Berbicara mengenai perempuan tak kan pernah lepas dari yang namanya
kecantikan. Gak mungin ketampanan. By The Way Pak Dhe naik bus way,
cantik itu apa sih? Kulit putih, tinggi, langsing, rambut lurus, hidung
mancung, apa lagi? yah, saya tidak sanggup untuk menyebutkan lagi. Saya
iri, hiks hiks .. karena bukan orang yang seperti itu.

Ha, ha lucu!! Karena yang dilihat orang tentang kecantikan adalah
cantik iklan. Padahal?? U see. Cantik itu relatif kawan, Pada abad
17-18 perempuan cantik di identikkan dengan tubuh yang besar serta
lemak yang menumpuk disekitar dada sampai paha. Persepsi itu
dipengaruhi lukisan yang dihasilkan dari para pelukis. Beda lagi tahun
60-an yang menganggap kecantikan dengan tubuh super tipis dan ceking.
Sekarang, Ah You-Know-What I mean. Semuanya terpengaruh iklan. Ga
selamanya iklan itu bener, gals.


Cantik itu hanya subjektivitas mata yang terbatas. Dari ujung SLG
kecantikan tak akan terlihat, apalagi dari mikroskop, kecantikan yang
kamu bangga-bangga kan tak ubahnya sekawanan sel yang lembek dan
menggelikan berjubel-jubel.

Karena cantik itu relatif, patuhi kaidah cantik dalam persepsi agama
islam. Siap?? oke kita mulai.

Sudah tahu kan ada peribahasa yang mengatakan "Ada lintah turun ke
kali, dari mata turun ke hati". Bener ga peribahasa saya? Ah, lupakan.
Dari peribahasa itu saja sudah kelihatan bener bahaya pandangan mata
itu gimana hebatnya. Mata adalah jendela hati, yang terlihat oleh mata
akan turun ke hati. Apabila kita melihat yang buruk-buruk maka perilaku
kita juga akan ikut-ikutan buruk. Kalau apa yang kita lihat itu baik
maka apa yang kita lakukan pun juga akan baik. Dengan mata, kita
melihat banyak contoh perilaku sosial dari lingkungan di sekitar kita.
Tak terkecuali contoh yang buruk, kita sebagai "teens" akan langsung
menerimanya begitu saja, tanpa saringan.

Ini yang lebih penting, Imam Ibnul Qayyim mengatakan bahwa "Pandangan
itu ibarat anak panah yang beracun. Barangsiapa melepas pandanganya,
akan menyesal kemudian." Dari pendapat itu terlihat jelas bagaimana
fatalnya melepas pandangan dengan bebas apalagi melihat lawan jenis
kita. Beracun.Jangan suka ngegosip apalagi ngegosipin temen kita sendiri. Allah itu
menciptakan telinga untuk hal-hal yang baik, bukan untuk ngegosipp....

Dulu waktu kita dikandungan kita belum bisa mendengar,  lalu saat kita
dilahirkan kedunia ini kita adalah manusia yang tidak mengetahui
sesuatu apapun. lalu diciptakan kepada kita telinga untuk mendengar dan
mengetahui segala sesuatu. Nggak malu sama Allah, yang sudah
menciptakan telinga untuk kita. Eh, kita malah ngegosipin orang. Makan
bangkai. Iwwhhh...

Jangan sampai banyak omong. Orang yang banyak omongnya malah kurang
bagus. Karena dengan banyak omong bisa-bisa kita malah terjerumus
kedalam hal-hal yang tidak diinginkan misalnya ngegosip. Sebenarnya
masih ada banyak hal yang harus kita patuhi. Namun, sebagai makhluk
yang terbatas, kita bahas yang berikut ini dahulu. Supaya kita langsung
bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dan tidak mubadzir.
Terakhir, mari kita membentengi diri dengan rasa takwa dan takut yang
penuh kepada Allah. Takut dengan sebenar-benar takut.