Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

13 Sep 2014

Pengetahuan dari Menjelajah Wikipedia

Errrr..... Jadi ini bukanlah suatu artikel tapi kumpulan status saya di Facebook yang sengaja saya masukkan di blog dan menghapusnya dari beranda Facebook. Hahaha. Saya adalah tipe orang yang suka menulis aneh-aneh menjadi status Facebook yang kalau di kemudian hari akan saya hapus karena saya malu dengan tulisan tersebut. Barangkali saya punya kepribadian ganda ya? Ada anak Psikologi? Hahaha.

Oke, status saya yang pertama begini:

Baru saja berwikipediaan dan saya menemukan ini, uwaaaaah.... selama ini saya tahu kalau di Indonesia itu ada banyak bahasa, tapi gak nyangka kalau Indonesia tuh seindah ini Saya cinta bahasa Indonesia, kula tresna marang basa Jawa

*rada endel, wikipedianya bahasa Inggris

http://en.wikipedia.org/wiki/Languages_of_Indonesia


Isi dari link ke Wikipedia itu adalah artikel bahwa bahasa di Indonesia itu ada banyak sekali, yang satu antara lain saling memiliki keterkaitan masing-masing. Begitu. Buka link-nya deh!

Status saya yang kedua begini:
Borneo sama dengan Kalimantan. Yep, saya sering mendengar kalimat yang seperti ini. Tapi saya sering bertanya-tanya sendiri, kenapa harus ada dua istilah untuk menyebut sebuah pulau? Pasti ada asal muasalnya 'kan ya? Nah, setelah saya berpikir ulang dan "browsing-browsing" akhirnya saya mendapatkan jawabannya.

Borneo dan Kalimantan itu memang sama. Sama-sama pulau yang terletak di kanan Sumatra dan di atas Jawa pada peta. Yah, setidaknya menurut persepsi saya sih. Bedanya, Borneo adalah sebutan internasional untuk menyebut pulau itu yang termasuk di dalamnya ada Malaysia, Brunei Darussalam, dan Kalimantan (Indonesia). Sedangkan Kalimantan sendiri adalah istilah yang digunakan untuk menyebut bagian Indonesia yang terletak di Borneo itu. Hmmmm.... Kita tidak menyebut Malaysia adalah bagian dari Kalimantan 'kan ya?


Status yang ini saya tulis berkat pengalaman saya sendiri. Saya juga tipe orang yang selalu bertanya hal-hal aneh yang tidak pernah saya tanyakan kepada orang lain dan menyimpannya sendiri. Lalu suatu hari, akan saya cari jawaban tersebut melalui buku maupun internet. Sedikit curhat, saya dulu sebelum kuliah sangat penasaran dengan asal muasal bahasa. Bagaimana suatu kaum bisa berbahasa demikian, dan bangsa itu berbahasa begitu. Saya tanya deh ke dosen waktu di kelas, ternyata itu semua adalah karena kesapakatan, saudara-saudara! Saya pikir saya tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang tepat, karena siapa sih yang tau bagaimana suatu bahasa di bentuk, ya 'kan? Ternyata eh ternyata, jawabannya ada. Dan saya puas dengan jawaban tersebut!

Well, ini dia status ketiganya:
BTW, Wikipedia itu luar biasa! Guess whattt?? Saya iseng baca-baca dan saya menemukan hal luar biasa. Yah, biasanya yang menurut saya menarik, tidak menarik untuk orang lain sih hahaha, jadi hal luar biasanya adalah ini:
1. Ada dua terito
ri di wilayah Asia Tenggara, yaitu Christmas Island dan Cocos (Keeling) Islands, yang selama ini tidak pernah terjamah dunia kebahasamelayuan ternyata menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa di daerahnya (selain bahasa Inggris, karena mereka masuk wilayah Australia).
2. Ternyata di sana mereka juga ada yang beragama Muslim. Apalagi di Cocos Islands yang hampir 80% Muslim.
3. Di Cocos Islands itu malah lebih banyak digunakan bahasa Melayu untuk istilah-istilah di daerahnya.
Wow kan? Hahaha.

ini nih sumbernya:
http://en.wikipedia.org/wiki/Southeast_Asia


Status yang ketiga ini benar-benar membuat saya tercengang lho! Udah gitu aja :D

20 Agu 2014

Terkenang Simbah

Tak pernah kusangka, hari raya menjadi sebuah hari yang sangat berbeda tanpa kehadiran mereka berdua: kakek dan nenekku.
Awal tahun ini, di masa liburan semester perkuliahanku, secara tiba-tiba keluarga kecil kami mendapatkan telepon dari kerabat yang rumahnya berdampingan dengan kakek. Katanya, kakek jatuh dan tak sadarkan diri. Keluarga kecil kami panik takut ada apa-apa dengan kakek. Ibu dan Bapak yang waktu itu tengah bersiap-siap untuk sebuah acara, langsung membatalkan acara itu dan bergegas menuju rumah sakit. Di rumah sakit, dokter mengatakan kakekku mengalami stroke. Entah stroke itu akibat dari jatuhnya, ataukah sebab dari jatuhnya. Kakekku koma, tak membuka mata sama sekali. Yang kutahu bahwa di masih ada adalah nafasnya yang memburu dengan bantuan alat pernafasan serta sebuah alat pendeteksi detak jantung (aku tidak tahu namanya) yang masih berbunyi “tut tut tut”. Tiga hari kakekku di rumah sakit, aku pergi mengunjunginya. Hanya berselang beberapa menit setelah kedatanganku, nafas kakek tersengal dan alat pendeteksi detak jantung berbunyi “tut” panjang. Tak ada diagram yang seperti gunung lagi, semuanya seperti dataran: lurus. Beberapa detik kemudian, dokter dan perawat-perawat berlarian menuju ruang kakek dan memberi alat kejut. Satu, dua, tiga. Satu, dua, tiga. Begitu mereka menghitung. Aku pun tak pernah menyangka, saat itu aku berada tepat di depan Izrail yang sedang mengambil nyawa kakekku.
Pertengahan tahun ini, tepat pada hari terakhir Ujian Akhir Semester (UAS), Bapakku telepon. Katanya, nenek pingsan dan tak sadarkan diri: persis dengan kejadian kakekku. Bapak memintaku pulang segera setelah selesai UAS. Dia tak mengatakan apa-apa, hanya menyuruhku pulang. Tapi aku tahu, dia khawatir nenek mengalami hal yang sama dengan kakek. Sama halnya dengan aku. UAS-ku hari itu berlangsung satu hari penuh, maka aku langsung pulang keesokan harinya dengan meninggalkan kamarku yang masih berantakan akibat kehebohan tugas-tugasku di masa Minggu UAS. Apalagi alasannya jika bukan karena telepon itu. Beberapa minggu setelah nenek di rawat di rumah sakit, nenek boleh pulang. Nenek terdiagnosis stroke, mengalami koma, dan tetap tak sadarkan diri. Maka, dokter mengatakan jika nenekku lebih lama di rumah sakit, dia justru akan terserang banyak penyakit. Keluarga kami pun membawanya pulang dan dirawat di rumah. Hari ke hari, kesadaran nenek mulai membaik: membuka mata, menggerak-gerakkan tangan dan mendapatkan asupan makanan. Tidak lagi menggunakan infus seperti ketika masih di rumah sakit. Keluarga kami secara berganti-ganti mendampingi nenek. Pakdhe, budhe, paklek, bulek, cucu-cucunya, semuanya urun tangan merawat nenek. Satu bulan semenjak pingsannya, nenek tak menunjukkan perkembangan lebih lanjut selain membuka mata dan menggerakkan tangan. Itupun hanya beberapa menit, tidak lebih. Hari itu, hari ke dua puluh lima, setelah Shubuh bapakku mengunjungi nenek yang dirawat di rumah bulek. Tidak lama dia pulang, mengganti baju dan berangkat lagi. Berselang beberapa menit, ibuku mendapat telepon dari bapak. Ia pun bergegas menuju rumah bulek: nenek telah tiada.
Di tahun yang sama, tahun ini, aku tidak memiliki simbah sama sekali. Lebaran menjadi amat sangat sepi: sepi dalam makna yang sebenarnya karena tidak ada lagi yang menjadi tujuan ‘pulang’. Di tahun lalu, lebaranku masih ‘nyenyak’ bersama mereka. Masih juga mendapatkan THR dari mereka. Haha. Tahun ini, sangat lain. Tak ada lagi suara ramah mereka ketika menjamu tamu dan tak ada lagi THR untukku. Baiklah, kalimat terakhir hanya gurauan saja.
Semoga Allah merahmati mereka berdua dan memasukkannya menjadi golongan orang-orang beriman.


21 Jun 2014

Mengaca Sejarah Pers Masa Lalu


Tempo, DeTik, dan Editor adalah bukti nyata betapa kepemerintahan Soeharto otoriter dan diktator. Tepat 20 tahun yang lalu, tiga majalah yang dianggap menentang rezim tersebut dibredel, pemimpin redaksinya dipaksa mundur, wartawannya dipecat secara paksa (bahkan menjadi buron). Karya-karya jurnalistik yang "berbeda", haram hukumnya. Bukan hanya karya jurnalistik sebenarnya, bahkan karya-karya sastra seperti puisi dan novelpun ikut diawasi. Lihat saja bagaimana Widji Tukul yang hingga kini tak diketahui rimbanya hanya karena menulis sebuah puisi hanya dengan satu kata, "Lawan!".

Usia saya yang tak jauh beda dengan usia "ulang tahun" pembredelan majalah-majalah itu, hingga kini tak tahu-menahu bagaimana sesungguhnya situasi kala itu. Mencari tahu pun, tak. Memang kejadian kala itu terkesan remeh dan wajar bagi saya dan kawan-kawan seumuran. Seperti halnya saat kami membaca buku sejarah di kelas sejarah. Hanya hafalan, seperti biasa. Seperti ketika menghafal bagaimana VOC datang ke Nusantara. Tidak ada rasa. Tak disangka, tahun-tahun itu memang benar-benar kejam dan "kurang ajar".

Barangkali, jika saya hidup di zaman itu dan menulis seperti ini, saya sudah buron sekarang, haha. Tak ada kebebasan pers. Tak ada kebebasan menyuarakan suara rakyat.

Saat ini, setelah dua puluh tahun menjelang, pers telah menjelma sebagai sosok yang baru. Tak lagi terikat seperti dulu, tapi buas seperti macan tanpa kandang, bahkan menjadi raja dari raja.

Malang, 21 Juni 2014
ALR

18 Jun 2014

Aku Belum Memikirkan Judul untuk Ini

Entahlah. Saya sudah lelah mendengar berita-berita PEMILU yang bersifat indoktrinasi dari media massa akhir-akhir ini. Kalau Kau tahu, berita-berita yang ada benar-benar menjijikkan. Hingga saya benar-benar ingin PEMILU segera usai dan pertikaian antar saudara ini pun segera selesai.

Sejak awal saya antusias terhadap pemilu 2014 karena ini adalah pemilu yang benar-benar pertama dalam hidup saya. Masalahnya, pemilu yang saya harapkan menyenangkan justru berlangsung sangat menyakitkan. 

Bayangkan saja jika sesama saudara sebangsa-setanah-air akhirnya bertengkar hanya karena urusan "memilih". Bukankah itu konyol sekali?

Hei, belum tentu "calon" pemilik kursi nomor satu itu benar-benar sesuai anggapanmu. Tak usahlah mengejek pilihan orang lain. Ibaratnya, kau dan temanmu bersama-sama dalam toko buah. Masing-masing dari kamu memilih buah jeruk. Satu buah jeruk jenis ini dan satu buah jeruk jenis itu. Tak perlu lah kamu mengejek pilihan temanmu, tak perlu juga kamu mengejek pilihan temanmu. Terlebih, kamu tak perlu mengejek jeruk itu sendiri.

Tidakkah kamu ingat pelajaran saat SD dulu tentang tenggang rasa? Ah ya, barangkali dulu kau tak anggap pelajaran PPKN penting. Barangkali dulu Kau sekolah hanya untuk mengejar "angka" bukan "nilai" dari belajar yang sesungguhnya.

Hei, agamamu tidak mengajari tentang menghormati saudara kah? Haha, aku tahu, semua agama mengajarkan hal itu. Tentang menghormati saudara. Barangkali Kau juga tak pernah anggap pelajaran dari agama penting, karena kau menganggap belajar agama tak akan beroleh apa-apa.

Aku benar-benar lelah, Kawan, Saudara, Kakak, Bapak, Ibu, dan Tuan-tuan pejabat sekalian. Bisakah kita damai dan tenteram?

Malang, 18 Juni 2014
ALR

18 Mar 2014

#reshare #ordinary #remembrance #klise



 Sebagian dari Anda mungkin adalah seorang yang berkeinginan untuk menjadi penulis. Ya, berkeinginan dalam artian yang sangat luas. Bagi Anda yang masih pelajar, anda berkeinginan untuk menjadi penulis untuk menulis tugas Bahasa Indonesia Anda. Bagi Anda yang sekarang adalah mahasiswa, saya tahu sekali bahwa sekian persen dari tugas Anda adalah kemampuan menulis. bukan hanya cerita pendek, tetapi juga laporan observasi, laporan perjalanan, portofolio, dan sebagainya. Kini menulis sudah menjadi makanan sehari-hari.


Saya yakin, sebagian besar dari Anda pernah melontarkan pernyataan “saya tidak bakat menulis” atau “saya tidak punya kemampuan untuk menulis”, benar?. Sebenarnya menulis bukanlah suatu momok yang harus ditakuti. Semua orang bisa menulis, tanpa harus memiliki kemampuan atau tidak. Lagipula, kemampuan menulis bukanlah sebuah kemampuan yang akan langsung muncul ketika Anda lahir. Kemampuan menulis bisa berkembang ketika Anda banyak membaca dan menulis. Jika dari awal anda sudah menyatakan pernyataan Anda tidak mampu menulis, maka itulah Anda. Maka selamanya Anda juga tidak akan menulis-menulis.



Mulai dari sekarang, stop pernyataan bahwa Anda tidak mampu untuk menulis. Semua orang pasti memiliki kemampuannya masing-masing namun itu tidak dapat menghentikan Anda untuk tidak mau menulis. Anda ingin mengembangkan kemampuan menulis? Bacalah banyak buku. Dengan membaca banyak buku, anda akan mempunyai daya pikir yang luas sehingga Anda dapat mengembangkan pikiran anda seluas-luasnya. Dengan begitu, Anda tidak akan pernah kehabisan ide untuk menulis.


Satu lagi yang penting, jika Anda berkeinginan untuk menjadi penulis, milikilah kemauan untuk menulis. Dengan memiliki kemauan, Anda akan menghasilkan tulisan yang bahkan hanya muncul di dalam alam imajinasi Anda. Orang tidak akan tahu apa yang sedang Anda pikirkan jika Anda memendamnya sendiri dan tidak mengutarakannya. Kemauan akan mendorong diri Anda sendiri untuk mau berusaha lebih keras agar dapat menghasilkan tulisan.



Selamat menulis. Adik-adikku SMP dan SMA, bacalah, dan menulislah. Kawan-kawanku mahasiswa, angkat penamu!





16 Feb 2011

Becoming “Adigang Adigung Adiguna” Person


Judulnya aku keren deh ah!! haha, piss tantee ini mikirnya ada 24 jam ga tidur dua hari tiga malem non stop loo (doohh, keliatan banget boongnya ya!)

Kenapa pakai judul itu? Karena “Adigang Adigung Adiguna” adalah peribahasa yang sangat terkenal menurut pandangan saya. Alasannya? Sering banget muncul waktu saya ulangan pas SD dulu. Hei, itu terkenal lo dikalangan kelas saya. Heran juga, siapa sih yang nyiptain, kalau ketemu saya mau kasih beliaunya tepuk tangan yang luar biasa heboh. Menciptakan suatu peribahasa yang mempunyai makna yang sangat dalam dengan diksi yang sangat indah didengar mata. Dengan Triple-A diawal tetapi sajak yang berbeda dibelakang. Keren. Tunggu, tunggu, adakah yang belum tahu artinya? Kok bisa? Memang sih ini peribahasa Jawa. Baiklah, saya nyerah ternyata ada yang belum tahu artinya. Artinya adalah ”Wong sing ngandelake kekuwatan, kaluhuran lan kapinterane”.

Menjadi seseorang yang mampu menjadi “Adigang Adigung Adiguna” bukanlah persoalan yang mudah. Jika ada orang yang punya Adigang, dia tak punya Adigung dan Adiguna. Jika punya Adiguna, dia tak punya Adigung atau Adigang. Begitu seterusnya. Memang sulit menjadi seseorang yang sempurna. Selalu saja ada banyak tempaan. Manusia masih mempunyai “Ghorizah” yang memang diciptakan Allah untuk menguji mana hambanya yang beriman. Apa salahnya kita mencoba? Ya kan. Adigang Adigung Adiguna adalah perwujudan dari keimanan, ketakwaan, dan kepatuhan terhadap apa yang telah diajarkan agama selama ini.

Adigang, mewujudkan kekuatan seorang yang mempunyai kekuasaan. Kekuasaan yang menjadikannya terhormat dan dihormati. Kemauan apa yang diinginkannya akan selalu terpenuhi karena kekuasaan yang dimilikinya. Kekuatan yang disalahpahamkan akan menjadikan dirinya seorang yang angkuh dan bengis. Menindas orang kecil dan lemah. Berbuat apapun sekehendak hatinya tanpa merasa bersalah dan berdosa. Merasa hidupnya ada di awang-awang. Luas dan tanpa batas. Menabrak, mengobrak-abrik tatanan kehidupan yang tertib. Akibatnya, hancur orang itu.

Karena itulah, dibutuhkan Adigung untuk orang tersebut. Sebagai buffer yang menjadi dapar supaya tidak berbuat seenak hati. Adigung adalah perwujudan sifat baik. Apik. Jika orang tersebut mempunyai kekuasaan, kekuatan tapi juga diimbangi dengan sifat yang siip dia benar-benar akan menjadi orang yang dihormati sepanjang masa. Karena dia berkuasa, sifatnya juga luhur, menyayangi yang lemah, takwa, taat pada agama, keren banget lah. Eits, orang kalau terlalu baik juga ga bagus lo!!. Ada orang datang memelas-melas minta bantuan, ga kira-kira dianya minta seluruh harta dan kekuasaan buat dia. Gara-gara dia terlalu baik, semua bakal dikasiin juga tuh. Kaya Indonesia nih, dibohongin orang luar negeri mau aja, terlalu baik Indonesia mah.

Nah, butuhlah sifat yang terakhir, yaitu, Adiguna yaitu orang yang pintar. Biar nggak gampang dibohongin orang. Kalau ini salah, tahu yang bener yang mana. Saya pernah denger dari pak Mario Teguh, katanya gini, “kalau orang yang mempunyai ilmu yang banyak, maka dia akan mengetahui banyak kesalahan sehingga dia tidak akan menjalankan kesalahan itu, dia justru akan berbuat yang terbaik”. Tuh, kalau jadi orang berilmu asyik. Ayo cari ilmu, biar pinter. Ada persyaratanya: orang yang pintar tapi tidak punya kebaikan, dia justru akan menyombongkan ilmu yang dimilikinya. Percuma kalau berilmu tapi Cuma untuk bangga-banggaan, mala tidak akan barokah. Ada lagi kalau orang pintar tidak punya kekuasaan, dia juga tidak bisa mengubah dunia untuk menjadi lebih baik. Makanya, dia juga butuh Adigang dan Adiguna.

Akhir, Kita harus punya ketiganya untuk menjadi pribadi yang TOP. Ada banyak filsafat jawa yang akan menuntun kehidupan kita menjadi lebih baik. Adigang Adigung Adiguna hanyalah sebagian kecil dari itu semua. Ada yang mau mencoba menjadi Adigang Adigung Adiguna?? Kita harus lo! Sebagai seorang remaja kita wajib mempunyai Adigang Adigung Adiguna untuk mengubah dunia. Karena apa?? Karena I WANT TO CHANGE THE WORLD. Seperti lagunya soundtracknya Inuyasha. (Aldila)

12 Jan 2011

Judulnya, Sore yang Indah




Sore yang indah ketika berjalan menyusuri trotoar berdebu. Sesak dengan pedagang yang beradu.

Sore yang indah ketika menikmati perjalanan pulang menuju halte bus sepulang bimbingan belajar yang melelahkan.

Sore yang indah ketika menunggu bus menjemput hingga adzan maghrib menyahut.

Sore yang indah ketika mengamati pemandangan muda-mudi yang saling bergelayutan. Dilain tempat, orangtuanya berjuang mencari keping rupiah bermimpi anaknya bisa sekolah.

Sore yang indah ketika menyaksikan insan-insan mulai menggelar tempat tidurnya yang nyaman dan empuk di emperan toko.

Sore yang indah ketika datanglah angkutan umum yang dinanti.

Sore yang indah meski harus mengalah pada ibu-ibu yang mengajak serta buah hatinya setelah capai berwisata menulusuri pasar demi pimpinan yang semakin menginjak.

Sore yang indah, tak kan ada sore yang bisa mengalahkan perjalan pulang sekolah saya. Sore yang penuh akan intrik dan hikmah jika bisa memahami arti kehidupan yang sesungguhnya. Sore yang tidak dibuang dengan kesia-siaan. Bukan sore yang dinikmati dengan tangan bergelayutan. Tak berfikir bagaimana orangtuaku membelikan baju untuk penampilanku. Tak berfikir bahwa yang dilakukannya hanyalah "bullshit".


Sore yang indah, memang. Disini kau akan mengetahui banyak hal yang menurutmu hanya ada di Televisi. Keadaan tumpah darahmu ini akan membuatmu semakin ingin melepaskan segel "kyubi" yang ada dalam dirimu. Mengaum, berontak dan mencakar wajah parlemen dan pimpinan yang terhormat.

Bagaimana bisa mereka asyik dengan kemewahan dari rakyat yang makan nasi aking hanya untuk mereka yang terhidang puluhan jenis sajian. Tak berfikirkah Tuan dan Nyonya itu akan perhitungan yang akan dijatuhkan kepada mereka?? Berebut kursi pimpinan tak pikirkan akibatnya.

Butuhkah kalian para pemimpin, bimbingan belajar dan pulang sore untuk menikmati sore yang indah????

Sore memang indah, kawan!!!! Senangnya, punya sore yang indah.

23 Nov 2010

Teens, Wake Up Now


Guys, kalian nyadar gak apa saja yang udah kalian dapatkan selama 17 tahun ini. Bukannya saya ini sok tahu, sok gede gitu, tapi saya cuma mau ingetin aja. 17 tahun bukan usia yang kanak lagi, lho!. Udah harusnya kita bergerak, berubah menjadi insan yang lebih berguna. Ada seorang kakak yang pernah bilang kepada saya. Katanya gini, kita itu orang yang luar biasa. * Ah, Aldila copycat. Biarin! tapi bagus kok nasehatnya. OK, saya ulangi disini. Bayangkan dari sekian juta sel yang berebut satu ovum. Kitalah yang berhasil lahir kedunia ini. Mungkin emang takdirnya gitu, tapi Allah sudah memberikan amanat kepada kita untuk menyembah dan beribadah kepada Allah dan jangan sampai menyekutukannya. Allah memberikan kita wajah yang cantik-cantik, ganteng-ganteng, akal untuk berfikir, tangan yang indah untuk njahilin temen (jangan sampai ya!), kaki, dan juga tubuh yang sempurna. Allah memberikan segala hal yang ada di dunia ini untuk kita.  Allah juga meminta kepada kita untuk beribadah kepada-Nya patuh segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Apa sulitnya iya kan? toh, kita juga bakal balik lagi kepada Allah.
Seandainya kalian, Ups kita (saya menulis ini juga untuk menyadarkan diri saya sendiri) kerja nih ya, di rumah Presiden misalnya. Kita jadi pembantu, gak ada yang lebih bagus dari pembantu, guys. Jadi jangan harap jadi menteri. Pejabat sekarang banyak yang bullshit. And then, kita digaji, punya seragam, hidup di rumah yang keren abis. Sebagai imbal balik, kita harus bekerja untuk sang presiden, iya kan. Eh, tanpa dinyana tiba-tiba sang cinderella, ehm, kita nyolong gucinya pak presiden yang dapet dari hadiah kunjungan kepresidenan dari planet Neptunus yang cuma satu itu diciptain kedunia ini dan tak ada gantinya (lebai ga seeh!!). Bayangin, bakal jadi apa kita, perkedel mah lewaat. Yapz, itu pengandaianya. Kita juga wajib untuk memberi imbal balik kepada Allah atas semua yang kita dapat di dunia ini.
Let's see our life. Kita sholatnya telat-telat. Ga pernah dhuha, apalagi tahajjud. Di suruh ibu pura-pura tidur. Muroja'ah selalu ketinggalan. Yang ada, kita justru lagi ngepos di ruang ekstra pura-pura sibuk, padahal? ngegosip. Ada lagi yang membuat saya risih melihatnya, pasangan muda-muda yang ada di SLG sana. Sensor, jangan di ceritain disini, ok.

Apa yang udah kita lakukan selama ini sehingga semua ini bisa terjadi? ya, Allah.. Astaghfirullah.. 17 tahun kita hidup tapi tak ada satu hal pun yang membuat orang tua kita tersenyum kepada kita. 17 tahun sejak kita dilahirkan, tapi tak pernah bersyukur kepada Allah karena sudah dilahirkan. Malah selalu berkeluh kesah karena merasa hidup kok sulit bener. Masya Allah, come on guys,  siapa yang mempersulit hayoo?? kita sendiri kan??. Seandainya kita menjalankan kehidupan di dunia ini sesuai dengan tata cara agama islam. Sesuai dengan aturan yang sudah di gariskan oleh Allah, tak kan ada hal yang kita merasa sulit karenanya. Seandainya kita merasa gagal pun, kita akan bersyukur kepada Allah karena Allah sudah memberikan kegagalan kepada kita. Itu artinya Allah masih sayang kepada kita. Buktinya Allah menguji kita bagaimana kita menemukan jalan untuk mencapai itu semua, dan pasti karena itu semua kita akan mendapatkan hikmah. Inget nggak, seseorang itu di katakan baik kalau dia berhasil memperbaiki kesalahanya yang sudah lalu. bukan dikatakan orang baik kalau semua pekerjaanya itu sempurna. Jadi, jangan merasa rendah dan selalu merasa kurang.
Kata orang, 17 tahun itu saat yang menyenangkan. Dan kita juga akan mendapatkan itu semua kalau kita dapat menyenangkan hati orang tua kita. Dan berhasil menjalankan syariat agama islam dengan baik dan benar. Bagaimana cara kita berhasil?. Ayok, mulai sekarang kita memetakan kehidupan kita SAAT DI USIA 17 TAHUN. Targetkan, apa yang ingin kamu raih di usia 17 tahun. Jangan 17 tahun saja loh ya, targetkan juga apa yang ingin kamu raih setelah itu.  Kalau saya sih, pengennya bisa nerbitin satu karya saya sebelum lulus ujian nasional. Lalu, saya lulus ujian nasional. Amiiinn. Sederhana bukan?. Kalau kalian pengen apa? Ssst.. jangan ikut-ikutan saya. Satu lagi, jangan pernah berlaku buruk pada orang tua. karena ridho Allah terletak pada ridho orang tua. Wake Up, ayo kita berubah.