Tampilkan postingan dengan label Catatan Konyol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Konyol. Tampilkan semua postingan

18 Des 2014

DESEMBER (2)




Penutup?
Dalam penutup barangkali kau juga perlu kesimpulan dan saran
Juga daftar rujukan, kurasa.

Bagaimana perjalanan keduabelas tigapuluh harimu?
Berlalu dalam suka,
Atau...
Berlarut dalam duka?

Desember adalah senandung pilu
Juga senandung ria bahagia
Di akhir ajal tahun, juga janin yang akan memulai tahun
Apa kabar harimu?
Telah kau tuliskan lelagumu juga lelakumu?

DESEMBER



Hai, bulan yang basah!
Tentu kau sedang bersuka cita.
Hujan tiada henti merintik dalam hari-harimu.

Tentu kau gembira,
Melihat manusia-manusia berkecipak takut
Aku tau kau merasakannya

Aku melihatmu tersenyum sore itu
Aku tahu kau terpeseona padanya, atau.....
Kau.....

Ah, aku melihatmu tersenyum sore itu
Ketika ia menyingsingkan pakaiannya dari lumpur
Lalu...
Menghujat hujan

Mungkinkah kau tersenyum lalu berkata:
“Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?”

19 Okt 2014

...

Guru memang hanya punya dua mata. Yang jika digunakan untuk menyisir seluruh kelas, sudah pasti tak bisa. Saat memandang ke pojok kanan, siswa di pojok kiri berulah. Saat memandang ke salah satu siswa, siswa lainnya berulah. Mata guru hanya sebatas itu. Tak mampu memandang ke segala arah. Mata guru memang bukan mata lebah, mata yang faset, mata yang majemuk. Namun saat di dalam kelas, sudah seharusnya guru mampu menggandakan matanya. Menyapu seluruh siswa. Mengamatinya. Adakah siswa yang melamun? Adakah siswa yang gaduh? Adakah siswa yang menatap kosong? Adakah siswa yang.... Intinya, guru harus terus waspada agar tak ada siswa yang tidak mengikuti pembelajaran. Bukan. Bukan untuk kepentingan guru. Ini semua untuk kepentingan siswa. Agar ia tak beroleh salah untuk masa depannya.

12 Okt 2014

Menjejak Diesna UM Tahun Keempat


Mengenang kenangan dengan berfoto? Ah, sudah biasa.
Mengenang kenangan dengan tulisan? Mengapa tidak? Toh, ketika belum ada dunia fotografi, orang-orang di zaman dahulu mencetak sejarah dengan tulisan. Dan itu, worth banget!

Hari ini, tepatnya tanggal 12 Oktober 2014 adalah hari peringatan Dies Natalis kampus saya Universitas Negeri Malang, yang ke 60. Dan tidak pernah saya duga akan hadir secepat ini. Rupanya, ini adalah Diesna keempat yang saya ikuti semenjak saya dinyatakan diterima di kampus ini. Tak banyak berubah. Masih dengan jalan sehat, pembagian doorprize (yang saya tidak pernah dapat), hingga tampilan band-band lokal yang menggoyang awak kampus UM selepas berlelah-lelah jalan.

Diesna pertama yang saya ikuti adalah saat saya masih (sangat) junior di kampus. Masih semester satu. Masih bau seragam abu-abu. Masih kangen-kangennya dengan ibu. Ketika itu, saya menikmati diesna ini bersama dengan teman-teman Asrama Mahasiswa UM. Baik putra maupun putri. Satu kata yang bisa saya ungkapkan kala itu adalah SERU! Kami semua memakai kaos berwarna sama dan sepanjang jalan meneriakkan yel-yel serta mars asrama. Ampun deh, kalau sekarang saya ingat masa itu saya merasa malu. Kok bisa ya, dulu seperti itu... Hahaha. Seperti anak SMA saja.

Diesna kedua yang saya ikuti, tahun 2012, saya masih bagian dari keluarga asrama UM. Kali ini saya sudah tidak bau seragam abu-abu lagi. Sudah setingkat lebih tinggi. Walaupun badan sudah tak bisa tinggi. Di tahun 2012 itu, saya mengulangi hal yang sama dengan tahun 2011. Mengenakan seragam yang sama, sepanjang jalan menyanyikan yel dan mars asrama. Bersenda gurau dengan teman dan adik asrama. Hingga berfoto bersama rektor UM.

Diesna ketiga, saya masih junior, tapi lebih senior. Tapi ada yang lebih senior lagi. Hahaha. Intinya sih, masih ada yang lebih tua di atas saya dan kawan-kawan seangkatan. Tahun itu, saya sudah tidak di asrama lagi. Tapi bau-bau asrama masih menyelimuti kami. Bagaimana tidak, sepanjang jalan, yang kami temui adalah mahasiswa-mahasiswa berkaos "Asrama" yang memanggil kami dengan 'Mbak'. Lalu pada akhirnya, kami bergabung lagi dengan warga-warga asrama.

Sepertinya, asrama memang tidak pernah lepas dari kehidupan saya (dan kawan-kawan). Kawan-kawan itu siapa saja? Yang jelas, ada.

Diesna keempat, tahun ini. Tahun puncak saya dengan jabatan mahasiswa UM. Barangkali tahun depan sudah tak kami miliki lagi KTM bertuliskan Universitas Negeri Malang yang kerap kami gunakan untuk masuk ke perpustakaan itu. Sebetulnya, saya tidak ada rencana sama sekali untuk mengikuti jalan santai hari ini. Lelah. Tuntutan-tuntutan  demi menyandang gelar sarjana begitu mencekik. Tapi pada akhirnya saya putuskan untuk mengikuti diesna hari ini. Saya tidak bisa merasakan jabatan mahasiswa setiap hari, lagi pula. Kapan lagi saya bisa mengikuti agenda kampus? Iya kan? Dan tidak saya sangka, ternyata banyak orang yang saya kenali (dari asrama, lagi hahaha) mengikuti jalan sehat ini. Awalnya kami datang secara terpisah tetapi ketika berjalan, seorang demi seorang yang datang dari masa-masa di asrama hadir di depan mata. Yang awalnya kami hanya kelompok kecil, menjadi kelompok besar lagi. Tapi tidak menyanyikan yel dan mars asrama lagi. Malu.

Yeah, akhirnya lengkap sudah. Empat tahun penuh saya mengikuti diesna dengan rajin. Dengan orang-orang yang sama namun dengan kondisi yang berbeda.

ALR, 12 Oktober 2014

13 Sep 2014

Pengetahuan dari Menjelajah Wikipedia

Errrr..... Jadi ini bukanlah suatu artikel tapi kumpulan status saya di Facebook yang sengaja saya masukkan di blog dan menghapusnya dari beranda Facebook. Hahaha. Saya adalah tipe orang yang suka menulis aneh-aneh menjadi status Facebook yang kalau di kemudian hari akan saya hapus karena saya malu dengan tulisan tersebut. Barangkali saya punya kepribadian ganda ya? Ada anak Psikologi? Hahaha.

Oke, status saya yang pertama begini:

Baru saja berwikipediaan dan saya menemukan ini, uwaaaaah.... selama ini saya tahu kalau di Indonesia itu ada banyak bahasa, tapi gak nyangka kalau Indonesia tuh seindah ini Saya cinta bahasa Indonesia, kula tresna marang basa Jawa

*rada endel, wikipedianya bahasa Inggris

http://en.wikipedia.org/wiki/Languages_of_Indonesia


Isi dari link ke Wikipedia itu adalah artikel bahwa bahasa di Indonesia itu ada banyak sekali, yang satu antara lain saling memiliki keterkaitan masing-masing. Begitu. Buka link-nya deh!

Status saya yang kedua begini:
Borneo sama dengan Kalimantan. Yep, saya sering mendengar kalimat yang seperti ini. Tapi saya sering bertanya-tanya sendiri, kenapa harus ada dua istilah untuk menyebut sebuah pulau? Pasti ada asal muasalnya 'kan ya? Nah, setelah saya berpikir ulang dan "browsing-browsing" akhirnya saya mendapatkan jawabannya.

Borneo dan Kalimantan itu memang sama. Sama-sama pulau yang terletak di kanan Sumatra dan di atas Jawa pada peta. Yah, setidaknya menurut persepsi saya sih. Bedanya, Borneo adalah sebutan internasional untuk menyebut pulau itu yang termasuk di dalamnya ada Malaysia, Brunei Darussalam, dan Kalimantan (Indonesia). Sedangkan Kalimantan sendiri adalah istilah yang digunakan untuk menyebut bagian Indonesia yang terletak di Borneo itu. Hmmmm.... Kita tidak menyebut Malaysia adalah bagian dari Kalimantan 'kan ya?


Status yang ini saya tulis berkat pengalaman saya sendiri. Saya juga tipe orang yang selalu bertanya hal-hal aneh yang tidak pernah saya tanyakan kepada orang lain dan menyimpannya sendiri. Lalu suatu hari, akan saya cari jawaban tersebut melalui buku maupun internet. Sedikit curhat, saya dulu sebelum kuliah sangat penasaran dengan asal muasal bahasa. Bagaimana suatu kaum bisa berbahasa demikian, dan bangsa itu berbahasa begitu. Saya tanya deh ke dosen waktu di kelas, ternyata itu semua adalah karena kesapakatan, saudara-saudara! Saya pikir saya tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang tepat, karena siapa sih yang tau bagaimana suatu bahasa di bentuk, ya 'kan? Ternyata eh ternyata, jawabannya ada. Dan saya puas dengan jawaban tersebut!

Well, ini dia status ketiganya:
BTW, Wikipedia itu luar biasa! Guess whattt?? Saya iseng baca-baca dan saya menemukan hal luar biasa. Yah, biasanya yang menurut saya menarik, tidak menarik untuk orang lain sih hahaha, jadi hal luar biasanya adalah ini:
1. Ada dua terito
ri di wilayah Asia Tenggara, yaitu Christmas Island dan Cocos (Keeling) Islands, yang selama ini tidak pernah terjamah dunia kebahasamelayuan ternyata menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa di daerahnya (selain bahasa Inggris, karena mereka masuk wilayah Australia).
2. Ternyata di sana mereka juga ada yang beragama Muslim. Apalagi di Cocos Islands yang hampir 80% Muslim.
3. Di Cocos Islands itu malah lebih banyak digunakan bahasa Melayu untuk istilah-istilah di daerahnya.
Wow kan? Hahaha.

ini nih sumbernya:
http://en.wikipedia.org/wiki/Southeast_Asia


Status yang ketiga ini benar-benar membuat saya tercengang lho! Udah gitu aja :D

23 Des 2013

Catatan Akhir Semester

23 Desember 2013
Selesai sudah. Semester limaku sudah di ujung batas. Tepat hari ini aku menyerahkan tugas kuliah semester limaku kepada ibu dosen yang terhormat. Sekedar memberitahu, hari ini adalah hari senin, dan hari ini adalah hari pertama libur semester ganjil. Jadi intinya, hari ini adalah hari UAS-ku yang terakhir sekaligus hari pertama liburanku. You know what? Aku ujian di hari pertama liburan. Ah, betapa indah liburanku semester ini. Sebenarnya semster ini bukan pertama kalinya aku mengalami hal ini karena semester yang lalu aku juga ujian di hari pertama liburan. Dan bagiku, itu adalah pengalaman yang luar biasa. Sangat menyenangkan bisa berada di kampus ketika semua liburan. Lalu ketika anak dari kelas atau jurusan lain bertanya, “kamu mau kemana?” aku akan menjawab “aku hari ini ujian, hiks hiks”. Ya, bagiku ini adalah hal yang menyenangkan. Tapi tidak dengan ujiannya. Haha.
Semester ini aku mendapatkan mata kuliah yang sangat berat, hampir semua mata kuliah adalah mata kuliah proyek yang artinya aku tidak dituntut untuk memiliki kognisi yang bagus, tapi justru praktik yang bagus. Kelasku hampir tidak ada ujian tulis sama sekali untuk UAS kali ini karena semuanya adalah tugas proyek.
Bisa dikatakan semester ini adalah semester terberat, termahal karena biaya untuk menghasilkan tugas itu juga sangat mahal, dan tertekan. Semua ada di semester ini. Semester depan, yang artinya adalah semester enam berarti. Di semester enam, seperti yang sudah kucek seelumnya, hanya ada 5 matakuliah dan sepertinya tidak akan terlalu menyenangkan seperti semester ini. terlebih, hampir semua mata kuliah sisa adalah mata kuliah pilihan atau mata kuliah minor. Entah kenapa aku merasa berat untuk meninggalkan semester ini. Seperti biasa, aku susah untuk move on dari suatu kondisi ke kondisi lain. Aku hanya merasa seperti tidak ingin segera dewasa. Masih menyenangkan menjadi mahasiswa dengan tugas dan deadline. Dan ini semua membuat  penyesalanku karena aku tidak pernah menggambarkan suka dan citaku pada selembar kertas. Oh well, sekarang kertas sudah tidak masa lagi. Sekarang sudah ada blog yang mampu menampung segala rasa yang ingin kita sampaikan.
Terima kasih blog, catatan ini kutulis di sebuah senin terakhir aku berada di semester lima, senin terakhir di tahun 2013 aku mengerjakan tugas di semester lima. 

19 Des 2013

Nikmatnya Berorganisasi Sejak Dini



Pers Jurnalistik adalah Organisasi pertama yang saya ikuti selama ini. Saat itu pula saya menemukan teman selain dari teman satu kelas. Manusia-manusia di dalam foto itu  adalah teman saya di dalam organisasi tersebut. Foto itu diambil seusai rapat Penerimaan Anggota Baru klub jurnalistik kami. Artinya, saat itu kami masih kelas 2 Madrasah Aliyah. Saat itu juga kesempatan pertama bagi saya untuk menjadi panitia di dalam sebuah kegiatan. Saya ingat betul saat itu saya menjadi bendahara kegiatan. Saya tidak pernah menjadi bendahara sebelumnya kecuali bendahara kelas ketika sekolah dasar. Tapi tentu saja, itu semua berbeda dengan bendahara kegiatan. Ada banyak peraturan yang harus dilakukan bendahara kegiatan seperti membuat proposal keuangan juga laporan pertanggungjawaban. Bagi saya yang tidak pernah menjadi panitia apapun sebelumnya, itu adalah saat tersulit bagi saya.
Untungnya, banyak teman yang mendukung saya dan membantu saya ketika kesusahan. Mereka yang ada difoto itu adalah teman yang sering membantu saya. Saat ini, ketika saya sudah masuk ke berbagai organisasi, saya masih mengingat dengan jelas bagaimana sepak terjang kami ketika kami masih berada di masa itu. Begitu banyak tawa dan air mata yang saya tumpahkan. Begitu banyak canda dan begitu banyak pengorbanan. Ah, masa SMA benar-benar mengenang bukan?