25 Okt 2012

20 Days Project (bagian 2) Pertemuan



sumber gambar: http://abangasrian.blogspot.com/2012/04/pertemuan.html

“Maulida Ruslikh Rachmawati…” Professor Abdul mengabsen seluruh mahasiswa yang sedang ada di kelas. Mengabsen adalah favoritnya. Mengabsen mahasiswa adalah hobinya. Mengabsen mahasiswa membuatnya mengenal mahasiswa lebih dekat. Dengan mengabsen mahasiswa, dia lebih mudah untuk menentukan mahasiswa tersebut lulus atau tidak. Dua kali tidak masuk kelasnya dengan alasan apapun, mahasiswa itu tidak lulus. Creepy.
“Maulida Ruslikh Rachmati…” kata Professor Abdul lagi. Mengecek sekali lagi apakah mahasiswanya itu masuk atau tidak. Jika ada yang tidak masuk kelasnya, dia langsung tersenyum kegirangan seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Super duper creepy.
“Apa Mauli tidak hadir?”
“Tidak Paaakk.”
“Kemana Mauli?”
***
“Siapa Kau?”
“Saya? Ah, Uh, Oh… Saya bukan orang jahat Mbaak…” Kata laki-laki tua itu. Aku agak sangsi dengan kebenaran kata-kata laki-laki tua itu. Dia gemetaran dan matanya sayu, penuh dengan tatapan ketakutan. Dari perawakannya, dia seperti sudah berumur 70 tahun. Dia memakai baju safari yang sudah lusuh, Tas kulit hitam yang warnanya mulai memudar dan sepatu kulit yang benar-benar tidak rupawan lagi. Benarkah dia tidak jahat?
“Bagaimana saya tahu kalau Kakek tidak jahat? Orang yang mengerti nama saya tidaklah banyak. Lalu Kakek, dari belakang saja sudah tahu kalau itu adalah saya. Mauli”
“Jadi Kau benar-benar Mauli, bukan? Mauli-ku? Mauli? Kau sudah sebesar ini rupanya,” sekarang, laki-laki tua itu menatapku kegirangan. Seperti menemukan saudaranya yang tidak pernah bertemu selama beberapa tahun.
“Apakah Kakek pernah mengenalku sebelumnya?” tanyaku.
“Tentu saja. Sejak kau masih kecil, aku selalu menggendongmu kemana-mana, ketika Kau sekolah, aku yang mengantarmu dan menjemputmu. Apa Kau tidak mengingatku?” kini, laki-laki tua itu menatapku penuh harap. Sepertinya, dia memang benar-benar mengenalku. Tapi, siapa dia?
“Apa Kau benar-benar lupa kepadaku? Kalau begitu, apa Kau ingat ini?” Tanya laki-laki tua itu sembari mengeluarkan barang dari dalam tas lusuhnya. Suatu benda yang ditunjukkan kepadaku membuatku tercengang dan memundurkan ingatanku kepada ingatanku beberapa tahun silam. Kertas ulangan bernilai 90.
“Kakeekk, Mauli berangkat sekolah ya? Hari ini pokoknya aku mau berangkat sendiri. Aku tidak mau diantar kakek. Aku malu sama teman-teman. Mereka semua diantar  ayahnya yang masih muda-muda dan aku diantar kakek. Kakek sudah tidak muda seperti ayah teman-temanku. Aku berangkat sekolah sendiri, ya?”
“Apa Kau berani berangkat sendiri? Nanti kalau ada apa-apa denganmu bagaimana? Kakek kan khawatir denganmu nak.”
“Berani. Pokoknya Mauli berangkat sendiri. Tapi nanti pulangnya dijemput sama Kakek ya”
“Aaaahh, Kau belum berani rupanya. Hahaha. Ya sudah, nanti pulangnya kakek jemput setelah Kakek bekerja ya?”
“Oke Kakek! Mauli berangkat dulu ya? Oh ya Kek, ini nilai ulangan bahasa Indonesia-ku kemarin. Bagus kan?” Aku memberikan secarik kertas kepada Kakek. Kertas hasil ulangan yang disana tertera nilai ulangan bahasa Indonesiaku.
“Hmm… Nanti, kalau aku sudah besar, aku mau jadi wartawan Kek. Seperti Ayah. Aku berangkat ya Kek, Assalammualaikuum,” kataku. Ternyata saat itu adalah saat di mana aku terakhir kali bertemu dengan kakek. Sepanjang sore, aku menunggu kakek datang untuk menjemputuku. Akan tetapi dia tidak kunjung datang untuk menjemputku.
“Jadi Kau???”

***
Di sebuah gedung yang megah, seorang laki-laki berumur tigapuluh-an berlari tergesa-gesa. Sesekali, tali sepatunya terinjak kakinya sendiri. Lalu jatuh tersungkur ke depan. Setelah itu dia berlari lagi dengan bibirnya yang berdarah karena terantuk lantai marmer.
“Booossss….” Teriaknya.
“Apa teriak-teriak? Apa kau sudah memberi makan kakek tua itu?”
“Itu dia masalahnya Bos. Kakek itu hilang. Sudah kucari ke seluruh gedung, tapi kakek itu tidak ada”
“###SAT!!!!!.... Apa Kau tidak becus menjadi pegawaiku? Sudah Kau cek lewat CCTV?”
“Belum, Bos!!”
“BO##H! Cepat cek CCTV!!” Bos marah dengan semarah-marahnya. Matanya merah dan mukanya merah padam menahan amarah. Asetnya yang paling beharga telah kabur dari dekapannya.
***













II
“Selama ini Kakek ada di mana? Aku dan Ibu sangat merindukan Kakek. Bagaimana kabar Kakek? Kenapa bajumu seperti ini? Aku sangat pangling lihat Kakek tadi. Kakekku yang sangat kubanggakan, jadi kulupakan,” Kini kami sedang berada di sebuah kafe. Aku mengajak Kakek ke sebuah kafe untuk berbincang dengannya lebih lanjut. Kakek ingin aku menyembunyikannya. Sepertinya dia sedang dikejar-kejar orang.
“Aku... Ah, sudahlah. Panjang sekali ceritanya Nak! bagaimana kabar ibumu?”
“Ibu.. semenjak Kakek menghilang, Ibu terus sakit-sakitan Kek. Apalagi sejak aku masih kecil, Ayah sudah meninggal. Tinggal Kakek yang menjadi acuan hidupnya,” aku menjawab pertanyaan kakek. Kakek terlihat tidak nyaman dengan jawabanku yang terakhir.
“Maafkan Kakek Mol!, bukannya Kakek ingin meninggalkan kalian. Kakek hanya sedang dalam masa-masa yang sulit untuk bertemu dengan kalian. Hari ini saja, Kakek kabur untuk menyiapkan hari ini.”
Kakek menatap meja dengan gusar. Sepertinya ada hal yang disembunyikannya.
“Kek, kita pulang ke rumah yuk! Ibu pasti sangat senang bertemu dengan Kakek. Dia tidak pernah mempercayai omongan tetangga yang mengatakan kalau Kakek telah meninggal. Dia terus menunggu kedatangan Kakek. Setiap hari, dia menunggu di teras rumah dan berharap Kakek akan datang dengan motor vespa Kakek yang dulu itu. Oya, ke mana motor Kakek?”
Kakek terdiam dan mematung. Dia diam dan sama sekali tidak bergerak.
“Kek? Kakek? Apa Kakek baik-baik saja?”

***
Waktu yang sama.
Gedung Harian Pagi “Sinar Nusantara”.
“Apa Mauli belum datang ke sini?”
“Belum mbak.”
Dua orang perempuan berbincang-bincang di sebuah kantor. Satu orang berperawakan kecil dengan rambut yang digulung ke atas dan memakai blazer hitam serta kemeja putih di dalamnya. Satu orang lagi, memakai kemeja biru dengan rok hitam dan rambut yang dicat pirang.
“Apa dia sudah mengirim berita untuk kita?” kata perempuan berblazer hitam.
“Belum Mbak,” jawab perempuan berambut pirang.
“Benarkah? Oya, dia meliput mengenai apa?”
“Dia meliput demo yang ada di depan kantor BATAN Mbak.”
“O, itu bisa menjadi headline kita untuk koran besok pagi. Cepat hubungi dia. Ancam dia dengan pemutusan magang jika dia tidak cepat-cepat menyelesaikan laporannya.”
“Siap! Bu direktur!!”
***
“Apa Kau sudah lihat rekaman CCTV?”
“Sudah Bos!”
“Apa hanya begitu? kau becus atau tidak sih bekerja. Kalau sudah lihat, laporannya bagaimana? Apa Kau harus terus ditanya hanya untuk menyampaikan apa yang Kau lihat? Kau pikir selamanya aku akan terus memberimu pertanyaan? Kau dibayar bukan hanya untuk menjawab pertanyaan, tahu!”
“Ba.. Ba.. Baik Bos!”
“Kakek itu, memang kabur dan sempat tertangkap CCTV ketika mengambil tasnya di ruang loker bos! Dia memakai baju safarinya seperti biasa. Mungkin kita bisa menyebarkan pamflet dengan foto kakek itu untuk menangkapnya kembali.”
“Bagus, segera kerjakan!”
“Eh? Si.. Si.. Siap Bos!”
***
“Kakek, kek, kek…” kataku sambil setengah memekik. Aku takut jika terjadi sesuatu dengan kakek. kami baru saja bertemu ditengah suasana yang tak terduga. Aku membatalkan kujunganku ke kantor redaksi untuk menyerahkan berita, juga membolos kuliah ketika bertemu kakek. Kakek adalah orang yang sangat penting untukku.
“Kakek… Kau tidak apa-apa kan?”
“Aku… Aku bukan orang jahat.. Saya bukan orang jahat… Lepaskan!! Lepaskan!!” Kakek meronta-ronta ketika kupegang. Sekali lagi, seperti ketika kutanya pada saat pertama bertemu tadi, matanya menyiratkan ketakutan yang amat sangat. Sepertinya memang ada satu hal yang tidak bere dengan kakekku.
“Kek, Ini Mauli, cucumu. Apa Kau ingat denganku?” Aku membuka tas kakek. Dia sedikit meronta ketika aku melakukan hal itu. Sepertinya, dia ketakutan akan tindak tandukku.
“Cucuku bukan orang jahat. Aku bukan orang jahat. Aku tidak bawa apa-apa. Aku hanya ingin menjemput cucuku sekolah,” aku terhenyak dengan ucapan kakek. Apakah ingatannya terhenti di masa lalu? Apa yang sebenarnya terjadi dengan kakek? Baju safari itu? ya, aku ingat. Itu baju yang sering dipakainya ketika berangkat bekerja. Lima tahun yang lalu, ketika dia menghilang, dia akan menjemputku ketika pulang bekerja. Apakah saat itu….
Kakek mendesis ketakutan. Menunduk lagi dan meringkuk seperti kucing yang kedinginan.
“Kek, ini Mauli… Kau ingat? Kau sering memanggilku Molly… Aku hanya ingin mengambil kertas ulangan bahasa Indonesiaku,” kataku menenangkan kakek. Kakek seperti bukan orang yang aku kenal lagi. Dia mendongak menatapku. Terus dengan tatapan yang penuh ketakutan.
“Kertas ulangan? Kertas ulangan Molly, cucuku. Kau kenal cucuku? Dia pandai. Dia ingin jadi wartawan seperti ayahnya. Dia bukan orang jahat,” kakek mulai melemah dan terisak.
“Aku Molly Kek. Aku sudah besar sekarang. Aku kuliah di Sastra Indonesia dan sudah semester 7. Aku jadi wartawan sekarang. Seperti Ayah,” mataku memanas. Hatiku terbakar. Siapa yang berani berbuat seperti ini kepada kakekku? Dia juga bukan orang jahat. Aku berjanji akan membalas siapapun yang memperlakukakn kakekku jadi seperti ini.
“Kakek… ini Molly Kek…. Mauli… huhuhu… Aku Molly… Kakek…” Aku terus menangis.
“Molly… Kau Molly… Ya, Kau Molly… Tadi aku melihatmu berbincang-bincang dengan pemuda. Lalu aku mengikutimu naik bus. Aku merindukan Molly, cucuku. Jadi aku bertanya, ‘Mbak Mauli ya?’ karena aku takut kalau dia bukan cucuku. Dia tidak ingat aku. Dia tidak ingat aku. Molly tidak ingat aku…”
“Maafkan aku kakek… tapi sekarang aku sudah ingat kakek. Kau kakekku. Kakekku yang setiap hari mengantar dan menjemputku sekolah. Kakek… ini Molly Kek…. Aku bukan orang jahat… “ Aku tersenyum lembut kepada kakek.
“Kau Molly? Mana Ibumu? Apa Molly masih malu diantar Kakek berangat ke Sekolah? Aku ingin mengantar Molly ke Sekolah. Tapi dia malu karena aku bukan ayahnya..” Dia kembali. Kakek kembali. Sepertinya kakek menerima tekanan yang sangat hebat sehingga dia seperti orang yang depresi dan melupakan sedikit ingatannya beberapa waktu yang lalu ketika kami bertemu.
“Aku Molly, Ibu baik-baik saja, dia ingin bertemu Kakek, Aku tidak malu lagi diantar Kakek berangkat sekolah. Maukah Kau mengantarku sekolah lagi?”
Kakek menatapku berbinar-binar. Ketakutannya seolah sirna. Dia menatapku dengan tatapan yang bermakna: ‘Aku bertemu cucuku. Cucuku. cucuku Molly’
***

20 Days Project




Assalammualaikum teman-teman..
Kali ini saya meng-upload sebuah cerita yang saya susun berdasarkan obsesi saya terhadap cerita-cerita thriller yang sering saya temui pada novel dan film. Sedikit banyak saya mencontek alur dan setting-nya. Bisa dibilang plagiasi juga sih. Terkadang jijik juga menjadi plagiator seperti sekarang ini. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat alur cerita yang original, tapi apa boleh buat, ketika saya membaca atau menonton sebuah film, alur-alur dari cerita lain pun menyusup. Buas, di bawah kesadaran saya sendiri. Inilah hasil plagiasi dari cerita-cerita tersebut. Belum bisa disebut sebagai cerita dengan alur yang memuaskan. Jadi, silahkan dibaca dan dikomentari sepuasnya… J

PROLOG

Juni, 2007, Suatu malam.
Waktu sudah menunjukkan dini hari. Seorang lelaki tua berlari terhuyung-huyung sambil memegang pahanya yang terus mengucurkan darah. Rentetan tembakan mengiringi langkahnya. Beberapa laki-laki berseragam loreng menyusul langkah lelaki tua itu berderap-derap. Senjata api laras panjang tergenggam di tangan mereka.
“Berhenti!!! Kau sudah ditahan!!!,” teriak salah satu laki-laki berseragam loreng. Lelaki tua terus berlari tak mengindahkan peringatan si laki-laki berseragam loreng.
“Jangan bergerak!!!, atau kami terpaksa menembak Anda, Tuan!!!,” teriak laki-laki berseragam loreng lagi. Letusan senjata api terdengar di udara.
“AARRGGHHHHH…..,” Terdengar suara kesakitan seorang laki-laki.
“BRUKKK,” lalu suara benda jatuh mengiringi teriakan itu.
Lelaki tua terdiam. Matanya menggelap. Tak satupun cahaya memantul ke retinanya. Tak satupun bayangan dapat terekam oleh penglihatannya.
“Apa aku sudah mati?” katanya dalam hati.
“Kau belum mati, Tuan,” Bisikan lembut tertangkap oleh indra pendengarannya. Begitu dekat. Ah, dia sadar. Dia sedang disekap oleh seseorang. Dia mencoba menggerakkan tubuh. Melawan. Gagal. Tangan dan kakinya telah terkunci.
Sesosok siluet tampak menutup mata dan mulutnya. Sebelumnya, siluet itu telah muncul dan memberikan totokan ringan pada kaki dan tangan lelaki tua itu sehingga dia tidak dapat bergerak. Mereka bersembunyi di sebuah gang. Tersembunyikan oleh gelapnya malam dan bayangan bangunan-bangunan.
“Komandaaan… yang tertembak anggota satuan kita,” teriak laki-laki berseragam loreng kepada laki-laki berseragam loreng lainnya yang dipanggil dengan komandan.
“Grrrr…. Laki-laki tua sialan!!, cepat cari dia!!” Asap kretek mengepul dari mulut komandan seketika.
“Siap, komandan!!”  serempak, se-pleton laki-laki berseragam loreng menjawab perintah.
Laki-laki tua menggeliat lagi. Mencoba meloloskan diri.
“Jangan bergerak, Professor, atau para tentara itu akan menangkap kita berdua.”
“Bangsat!!! Siapa Kau? Lepaskan aku!!” kata lelaki tua itu mendesis.
“Sssstt.. sudah kubilang jangan bergerak.”
Professor menggeliat lagi.
 “Baiklah terpaksa aku melakukan ini,” kata suara penyekap professor tua itu. Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya lalu menusukkan ke tubuh Professor.
“Ka.. Ka.. Kau.. Siapa Kau?” Professor-pun ambruk seketika.

***








Yang Fana Adalah Waktu

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
"Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?"
tanyamu.
Kita abadi.

(Sapardi Djoko Damono)
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.












I

5 tahun kemudian.
Agustus, 2012.

“BATAN Kemalingan”
Headline yang terpampang hampir di semua harian pagi. Penjaja koran diperempatan jalan yang biasanya disibukkan dengan skandal ala artis ibukota, kini sibuk dengan isu yang tengah naik daun. Sains yang bersekutu dengan politik.
“Dik, lihat satu dong!” panggilku pada seorang bocah yang duduk termangu di sudut halte. Kasihan, anak sekecil ini harus berjualan koran ditengah keganasan ibukota. Usianya sekitar 7 tahun. Seumuran dengan adikku yang paling kecil. Bocah itu mendekat.
“Sekolah, Dik? Kelas berapa?” Tanyaku setelah bocah itu menyerahkan koran terakhirnya kepadaku.
“Sekolah kok mbak, saya kelas 1 SD”, jawabnya. Aku termanggut mendengar jawabnya. Jam 8 pagi berada di Halte berjualan Koran. Aku merasa maklum mendengar jawabannya. Mungkin masuk siang, pikirku.
“Hari ini sekolah libur, katanya guru-guru pada ikut demo ke kantor BATAN meminta segera diusut siapa yang telah mencuri partikel radioaktif yang baru ditemukan oleh BATAN”, kata seseorang yang tiba-tiba muncul dari belakangku. Lalu mengelus kepala bocah itu.
“Saya kakak dari bocah ini”, katanya lagi. Menjawab pertanyaan yang baru muncul dipikiranku.
“Oh”, gumamku.
“Jaman sekarang tak ada yang tidak dilebih-lebihkan. Media selalu memberitakan apa yang kira-kira akan membuat produknya cepat laku. Berita yang tak akuratpun juga diterbitkannya. Tak peduli bagaimana efek dan kelanjutan kisahnya. Ah, barangkali mereka justru lebih senang kalau dengan berita yang mereka buat, berita yang lebih meledak lagi mencuat ke permukaan. Lalu membuat berita yang lebih meledak dari berita yang sebelumnya”, kata orang itu sambil tertawa kecil.
“Salman, apa kakak bilang, jangan pakai baju itu lagi dong, lain kali kalau ikut kakak pakai baju yang lain ya! Baju kamu kan banyak, kemarin juga baru dibelikan mama. Tuh, kakak ini nganggep kamu jualan koran”, Kata orang itu pada Salman, bocah penjual Koran. Ups, aku salah duga. Anak itu bukan penjual koran tapi….
“Koran itu koran Papa saya, Kak. Tadi Papa pesan pas kita mau keluar cari sarapan”, aku membulatkan bibirku membentuk huruf O. Lalu menggumam panjang tanda paham. Aku malu. Benar-benar malu. Aduh, kenapa begini. Kebiasaanku yang selalu berpikir menurut penglihatanku saja sepertinya harus segera diubah.
“Maaf”, kataku. “Saya tidak tahu, emm nama saya Mauli, salam kenal”, Lanjutku lalu membungkukkan badan sedikit.
“Ya, tidak apa-apa. Memang sudah biasa begini, adik saya yang satu ini memang paling sulit untuk diatur, banyak juga orang yang menganggap seperti itu. Oh ya, nama saya Rizal. Panggil saja saya Rizal. Sepertinya lebih santai kan? Kami pulang dulu ya, Mauli”, kata orang yang namanya Rizal itu.
“Iya, hati-hati. Awas adiknya jangan sampai ketinggalan lagi”, candaku. Sok kenal sedikit tidak apa-apa kan? Lagi pula, tampangnya juga lumayan. Ehm.
Rizal hanya tersenyum. Lalu masuk mobil. Ah, lagi-lagi tersenyum. Ganti aku yang tersenyum lalu masuk bus yang sudah datang menjemputku.
Obrolan mengenai Rizal dan adiknya yang kuanggap sebagai penjual koran melupakanku pada objek pemikiranku tadi. Sampai di mana tadi? Oh, aku ingat. BATAN yang kemalingan. Beberapa hari yang lalu, BATAN secara langsung mengumumkan kepada masyarakat Indonesia mengenai penemuan mereka akan partikel radioaktif yang baru. Sudah sejak lama BATAN melakukan penelitian mengenai hal ini. mereka percaya, jika mereka bisa menemukan partikel radioaktif baru, mereka dan Indonesia tentunya, akan mendapatkan sumber energi yang lebih menguntungkan negara jika minyak bumi habis nantinya.
Memang bukan hal yang mustahil untuk menciptakan partikel radioaktif baru. Marie Curie bersama suaminya Pierre Curie pada tahun 1989, menemukan partikel radioaktif baru yang mereka beri nama Radium.
Penemuan partikel radioaktif baru oleh BATAN ini jelas memicu kontroversi dari berbagai pihak. Mulai dari WALHI, Perkumpulan Dokter Indonesia, Asosiasi Petani Indonesia, Organisasi-organisasi mahasiswa, dan berbagai macam organisasi kemasyarakatan lain menolak dengan lantang penemuan ini. Alasannya, mereka tidak mau membuat lingkungan tercemar oleh zat-zat radioaktif.
Ya, lagi-lagi mereka masih mengaitkan antara radioaktif dengan kecelakaan reaktor Chernobyl di Uni Soviet. Memang kejadian itu sangatlah mengerikan bagi semua orang. Apalagi baru-baru ini ada kejadian lagi yang menghebohkan dunia. PLTN di Jepang mengalami kebocoran karena guncangan gempa. Radiasi dari zat radioaktif memang sangat berbahaya bagi kelangsungan makhluk hidup.
Kurasa memang tak ada salahnya jika masyarakat banyak yang tidak setuju dengan upaya penyelamatan energi melalui nuklir itu. Nuklir memang….
“Hahaha, masyarakat kita itu terlalu kolot, Bang! Nuklir kan tak selamanya buruk. Bayangkan, nuklir itu digunakan juga untuk perawatan kanker lho. Abang ndak percaya? Cobatanya deh sama dokter. Kemoterapi itu pakai nuklir. Banyak pasien kanker yang sudah mencapai stadium lanjut berkurang penyakitnya jika menerima kemoterapi. Kalau saja, tak ada nuklir, pasti banyak masyarakat kita yang mati, Bang! Nuklir tak selamanya buruk. Tinggal bagaimana kita yang menggunakannya saja kok.” Seorang lelaki separuh baya yang duduk di belakangku membuyarkan lamunanku. Nampaknya ia sedang bercakap-cakap dengan topik yang sama denganku. Bedanya, aku melamun. Dia berbincang-bincang dengan orang yang dia panggil Abang disebelah tempat duduknya.
“Ah, bagaimanapun, saya tetap tidak setuju pemakaian nuklir lho, Bang! Kali ini feel saya yang berbicara. Kalau sudah begini, alasan rasional bagaimanapun tidak bisa mengalahkan argumen saya yang irrasional ini. Pokoknya, saya tidak setuju dengan adanya nuklir.” Suara seorang laki-laki yang dipanggil Abang terdengar kontra dengan laki-laki yang pertama.
“Saya juga tidak setuju, Mas. Bahaya. Saya dengar, orang Jepun banyak yang sakit kolera gara-gara nuklir-nuklir itu. Saya tidak tahu, apa itu nuklir. Tapi sepertinya seperti makanan yang beracun.” Kali ini seorang kakek-kakek menimpali perdebatan kecil kedua lelaki tadi. Gelak tawa terdengar menggelegar setelah kakek berbicara. Rupanya penumpang bus ikut menyimak percakapan ini tadi. Sang kakek hanya terlihat bingung dengan keadaan sekitarnya. Aku ikut tersenyum.
HHhhhh….  Aku memejamkan mata dan menarik nafas panjang. Perdebatan hanyalah sekadar pemanis bibir saja kalau tak ada konklusinya. Kata dosenku, debat semacam ini disebut sebagai debat kusir. Hanya bersilat lidah saja, lalu jika percakapan usai, selesailah permasalahan. Tak ada tindak lanjutnya.
“Mbak, turun mana?” suara kondektur bus, memecah lamunanku. Aku tergeragap. Ah, aku lupa kalau aku harus turun di halte sebelum ini.
“Sekarang jam berapa, Pak?” tanyaku aneh. Dan anehnya, meskipun aku sadar kalau pertanyaanku aneh, tetap saja ku lontarkan.
Pak kondektur hanya memicingkan mata, lalu menunjuk jam tangan yang terlingkar di pergelangan tanganku. Orang aneh, barangkali pikirnya. Punya jam tangan tapi masih bertanya.
“Turun mana Mbak?” Tanyanya satu kali lagi.
“Halte depan Kantor Pos, Pak,” jawabku innocent.
“Itukan sudah terlewat, Mbak. Gimana sih Mbak, cantik-cantik kok aneh.”
“Ya sudah Pak, turun sini saja,” kataku.
“Kiri.. kiri.. kiri….” Teriak pak Kondektur kepada Sopir. “Kaki kiri dulu, hati-hati,” Katanya lagi. Aku menuruti katanya. Toh tak ada ruginya bagiku. Kalau aku tak menuruti kata-kata kondektur, biasanya mereka akan marah dan mengomel panjang tak karuan.
Hap. Aku pun turun di pinggir jalan. Cukup jauh untuk menuju tempat tujuanku tadi. Jadi, aku memutuskan untuk mencari kendaraan umum lagi untuk kembali ke tempat tujuan asalku.
“Mbak Mauli ya?” Tanya sebuah suara di belakangku.
“Eh? Seterkenal itukah aku?”
Penasaran mengenai siapa yang mengenalku di jalan seperti ini, aku pun berbalik.
“Siapa Kau?”
***

6 Des 2011

When the Rain Falls

I love the rain. With all the accompanying phenomena. When rain falls, I feel the presence of a disappeared sence infiltred my chest. Slamorous shout of joy. Whether he meant, anyway. I am also confused. But, one thing I believe, that I love the rain.

When it rains, the sky shows how he can’t stand to hold two contadictory group of clouds. Having two different point of view understanding. Between positive and negative. That’s why lightning is electricity supreme exploded. I think, every element in the universe has two sides. Between positive and negative.
Positive and negative, not only can be translated by a plus and minus sign. But, we can also try tihs one. We have a north and south. West and East. Right and left. Top and bottom. Man and woman. Even, yin and yang. All the elements in the earth is unity between the two elements. Positive and negative. Also that’s why rain happens.

What we see in the earth is not simply looj to what happens, that rain down from the sky. But it is also a great interpretation. Namely, a great water flow that is difficult predicted by human what the advantages it is.  Humans often complain. “why is it raining? I did not bring an umbrella”. Or, “ah, it rains again, surely flood again”. That is humans, are rarely grateful for blessings of Almighty God. Referring to the earlier concept of positive and negative, such complaints is only a negative thing. And, if there is negative, then definitely there will be posititive. Positive things from falling rain, we can see that which gives live. Without rain there would be no life.

Because, no man will ever make enough water to flush the earth. Yes, without rain there would be no living plants because of overheating. Then, there is no food for humans and animals. Finally, life on the earth will be extinct. We should be grateful for the rain.

For me, the rain is not only component of life. But also a miracle. In my childhood, I often wondered. Where did the water come from the sky? Because it is so wonderful. And I assured that it was a miracle. But with increasing my knowledges. I knew that rain was an extraordinary concept of the Almighty Creator. That is, a single unity beteween, sun, sea, air blowing, temperature, even the contours of the area. Knowing these facts, the rain is still magical to me. Just imagine. Sea water is exposed to hot sun will evaporate, and the vapour rising into clouds gathering above. With gusts of wind, the cloud moves. Then there was the changing of vapour into raindrops. Miraculous.

Yes, the rain do hold a lot of admiration. In fact, the past people often make strange things just to ask for rain or deny the coming of rain. Also, a strange thing when arrival of rains associated with mystical things. In fact, we know that rain is a great gift from the Almighty.

In short, I love the rain. With all the accompanying phenomena.

Saat Hujan Turun (terjemah)

Aku suka hujan. Dengan segala fenomena yang menyertainya. Ketika hujan turun, aku merasakan adanya sebuah perasaan gaib menyusupi dadaku. Riuh rendah berteriak kegirangan. Entah pula apa maksudnya. Aku juga bingung. Namun satu hal yang kuyakini. Aku suka hujan.

Ketika hujan, langit menunjukkan betapa tidak kuasanya ia menahan dua kumpulan awan yang saling bertolak belakang. Mempunyai dua sudut pemahaman yang berbeda. Antara positif dan negatif. Karena itulah petir yang beraliran listrik mahatinggi itu meledak. Kurasa, setiap elemen di alam semesta ini mempunyai dua hal itu. Antara positif dan negatif.

Positif dan negatif, tidak hanya bisa diterjemahkan dengan tanda plus dan minus. Tapi, kita juga bisa coba yang satu ini. Kita punya utara dan selatan. Barat dan timur. Kanan dan kiri. Atas dan bawah. Laki-laki dan perempuan. Bahkan, yin dan yang. Semua elemen dibumi merupakan satu kesatuan antara dua unsur itu. Positif dan negatif. Juga itulah mengapa hujan terjadi.

Apa yang kita saksikan dibumi ini tak hanya menilik kepada apa yang terjadi, bahwa hujan turun dari langit. Tetapi juga sebuah pengertian yang hebat. Yaitu, sebuah curahan air mahadaya yang susah diprediksi manusia apa untungnya. Manusia hanya sering mengeluh. “Kenapa hujan? Aku tidak bawa payung”. Atau, “Ah, hujan lagi, pasti banjir lagi”. Itulah, manusia, jarang bersyukur atas nikmat dari tuhan yang Maha Esa ini. Merujuk pada konsep positif dan negatif tadi, keluhan-keluhan semacam itu hanyalah keluhan yang bersifat negatif. Dan, jika ada negatif, maka pasti akan ada positif. Hal positif dari turunnya hujan, bisa kita lihat, bahwa hujanlah yang memberikan kehidupan. Tanpa adanya hujan maka tak ada kehidupan.

Karena, tidak akan pernah manusia membuat air yang cukup banyak untuk bisa menyiram bumi. Ya, tanpa hujan takkan ada tumbuhan yang hidup gara-gara meranggas kepanasan. Lalu, tak ada bahan makanan untuk manusia dan hewan. Akhirnya, punahlah kehidupan di muka bumi. Kita patut bersyukur dengan adanya hujan.

Bagiku, hujan tak sekedar materi pencetus kehidupan. Tetapi juga suatu keajaiban. Dulu, saat masih kecil aku sering bertanya-tanya. Darimana asalnya air yang turun dari langit itu? Karena ajaib sekali ada air yang bisa turun dari atas langit. Dan yakinlah aku, bahwa itu adalah suatu keajaiban. Namun seiring bertambahnya pengetahuanku. Tahulah aku, bahwa hujan merupakan sebuah konsep luar biasa dari sang Maha Pencipta. Yaitu, sebuah satu kesatuan antara, matahari, air laut, udara yang berhembus, suhu, bahkan kontur daerah. Mengetahui fakta-fakta ini, hujan tetaplah ajaib bagiku. Bayangkan saja. Air laut yang terkena panas sinar matahari akan menguap, lalu uap airnya berkumpul diatas membumbung menjadi awan. Dengan hembusan angin, awan itu berpindah. Lalu terjadilah uraian uap air-uap air itu menjadi titik hujan. Ajaib.

Ya, hujan memang menyimpan banyak kekaguman. Bahkan, orang-orang terdahulu sering membuat hal-hal aneh sekedar untuk meminta hujan atau menolak kedatangan hujan. Juga, suatu yang aneh keitka kedatangan hujan dikaitkan dengan hal-hal mistis. Padahal, kita tahu sendiri, bahwa hujan adalah sebuah karunia yang hebat dari sang maha kuasa.

Singkatnya, aku suka hujan. Dengan segala fenomena yang menyertainya.