Guru memang hanya punya dua mata. Yang jika digunakan untuk menyisir seluruh kelas, sudah pasti tak bisa. Saat memandang ke pojok kanan, siswa di pojok kiri berulah. Saat memandang ke salah satu siswa, siswa lainnya berulah. Mata guru hanya sebatas itu. Tak mampu memandang ke segala arah. Mata guru memang bukan mata lebah, mata yang faset, mata yang majemuk. Namun saat di dalam kelas, sudah seharusnya guru mampu menggandakan matanya. Menyapu seluruh siswa. Mengamatinya. Adakah siswa yang melamun? Adakah siswa yang gaduh? Adakah siswa yang menatap kosong? Adakah siswa yang.... Intinya, guru harus terus waspada agar tak ada siswa yang tidak mengikuti pembelajaran. Bukan. Bukan untuk kepentingan guru. Ini semua untuk kepentingan siswa. Agar ia tak beroleh salah untuk masa depannya.
19 Okt 2014
12 Okt 2014
Menjejak Diesna UM Tahun Keempat
Mengenang kenangan dengan berfoto? Ah, sudah biasa.
Mengenang kenangan dengan tulisan? Mengapa tidak? Toh, ketika belum ada dunia fotografi, orang-orang di zaman dahulu mencetak sejarah dengan tulisan. Dan itu, worth banget!
Hari ini, tepatnya tanggal 12 Oktober 2014 adalah hari peringatan Dies Natalis kampus saya Universitas Negeri Malang, yang ke 60. Dan tidak pernah saya duga akan hadir secepat ini. Rupanya, ini adalah Diesna keempat yang saya ikuti semenjak saya dinyatakan diterima di kampus ini. Tak banyak berubah. Masih dengan jalan sehat, pembagian doorprize (yang saya tidak pernah dapat), hingga tampilan band-band lokal yang menggoyang awak kampus UM selepas berlelah-lelah jalan.
Diesna pertama yang saya ikuti adalah saat saya masih (sangat) junior di kampus. Masih semester satu. Masih bau seragam abu-abu. Masih kangen-kangennya dengan ibu. Ketika itu, saya menikmati diesna ini bersama dengan teman-teman Asrama Mahasiswa UM. Baik putra maupun putri. Satu kata yang bisa saya ungkapkan kala itu adalah SERU! Kami semua memakai kaos berwarna sama dan sepanjang jalan meneriakkan yel-yel serta mars asrama. Ampun deh, kalau sekarang saya ingat masa itu saya merasa malu. Kok bisa ya, dulu seperti itu... Hahaha. Seperti anak SMA saja.
Diesna kedua yang saya ikuti, tahun 2012, saya masih bagian dari keluarga asrama UM. Kali ini saya sudah tidak bau seragam abu-abu lagi. Sudah setingkat lebih tinggi. Walaupun badan sudah tak bisa tinggi. Di tahun 2012 itu, saya mengulangi hal yang sama dengan tahun 2011. Mengenakan seragam yang sama, sepanjang jalan menyanyikan yel dan mars asrama. Bersenda gurau dengan teman dan adik asrama. Hingga berfoto bersama rektor UM.
Diesna ketiga, saya masih junior, tapi lebih senior. Tapi ada yang lebih senior lagi. Hahaha. Intinya sih, masih ada yang lebih tua di atas saya dan kawan-kawan seangkatan. Tahun itu, saya sudah tidak di asrama lagi. Tapi bau-bau asrama masih menyelimuti kami. Bagaimana tidak, sepanjang jalan, yang kami temui adalah mahasiswa-mahasiswa berkaos "Asrama" yang memanggil kami dengan 'Mbak'. Lalu pada akhirnya, kami bergabung lagi dengan warga-warga asrama.
Sepertinya, asrama memang tidak pernah lepas dari kehidupan saya (dan kawan-kawan). Kawan-kawan itu siapa saja? Yang jelas, ada.
Diesna keempat, tahun ini. Tahun puncak saya dengan jabatan mahasiswa UM. Barangkali tahun depan sudah tak kami miliki lagi KTM bertuliskan Universitas Negeri Malang yang kerap kami gunakan untuk masuk ke perpustakaan itu. Sebetulnya, saya tidak ada rencana sama sekali untuk mengikuti jalan santai hari ini. Lelah. Tuntutan-tuntutan demi menyandang gelar sarjana begitu mencekik. Tapi pada akhirnya saya putuskan untuk mengikuti diesna hari ini. Saya tidak bisa merasakan jabatan mahasiswa setiap hari, lagi pula. Kapan lagi saya bisa mengikuti agenda kampus? Iya kan? Dan tidak saya sangka, ternyata banyak orang yang saya kenali (dari asrama, lagi hahaha) mengikuti jalan sehat ini. Awalnya kami datang secara terpisah tetapi ketika berjalan, seorang demi seorang yang datang dari masa-masa di asrama hadir di depan mata. Yang awalnya kami hanya kelompok kecil, menjadi kelompok besar lagi. Tapi tidak menyanyikan yel dan mars asrama lagi. Malu.
Yeah, akhirnya lengkap sudah. Empat tahun penuh saya mengikuti diesna dengan rajin. Dengan orang-orang yang sama namun dengan kondisi yang berbeda.
ALR, 12 Oktober 2014
13 Sep 2014
Pengetahuan dari Menjelajah Wikipedia
Errrr..... Jadi ini bukanlah suatu artikel tapi kumpulan status saya di Facebook yang sengaja saya masukkan di blog dan menghapusnya dari beranda Facebook. Hahaha. Saya adalah tipe orang yang suka menulis aneh-aneh menjadi status Facebook yang kalau di kemudian hari akan saya hapus karena saya malu dengan tulisan tersebut. Barangkali saya punya kepribadian ganda ya? Ada anak Psikologi? Hahaha.
Oke, status saya yang pertama begini:
Baru saja berwikipediaan dan saya menemukan ini, uwaaaaah.... selama ini saya tahu kalau di Indonesia itu ada banyak bahasa, tapi gak nyangka kalau Indonesia tuh seindah ini Saya cinta bahasa Indonesia, kula tresna marang basa Jawa
*rada endel, wikipedianya bahasa Inggris
http://en.wikipedia.org/wiki/Languages_of_Indonesia
Isi dari link ke Wikipedia itu adalah artikel bahwa bahasa di Indonesia itu ada banyak sekali, yang satu antara lain saling memiliki keterkaitan masing-masing. Begitu. Buka link-nya deh!
Status saya yang kedua begini:
Borneo sama dengan Kalimantan. Yep, saya sering mendengar kalimat yang seperti ini. Tapi saya sering bertanya-tanya sendiri, kenapa harus ada dua istilah untuk menyebut sebuah pulau? Pasti ada asal muasalnya 'kan ya? Nah, setelah saya berpikir ulang dan "browsing-browsing" akhirnya saya mendapatkan jawabannya.
Borneo dan Kalimantan itu memang sama. Sama-sama pulau yang terletak di kanan Sumatra dan di atas Jawa pada peta. Yah, setidaknya menurut persepsi saya sih. Bedanya, Borneo adalah sebutan internasional untuk menyebut pulau itu yang termasuk di dalamnya ada Malaysia, Brunei Darussalam, dan Kalimantan (Indonesia). Sedangkan Kalimantan sendiri adalah istilah yang digunakan untuk menyebut bagian Indonesia yang terletak di Borneo itu. Hmmmm.... Kita tidak menyebut Malaysia adalah bagian dari Kalimantan 'kan ya?
Status yang ini saya tulis berkat pengalaman saya sendiri. Saya juga tipe orang yang selalu bertanya hal-hal aneh yang tidak pernah saya tanyakan kepada orang lain dan menyimpannya sendiri. Lalu suatu hari, akan saya cari jawaban tersebut melalui buku maupun internet. Sedikit curhat, saya dulu sebelum kuliah sangat penasaran dengan asal muasal bahasa. Bagaimana suatu kaum bisa berbahasa demikian, dan bangsa itu berbahasa begitu. Saya tanya deh ke dosen waktu di kelas, ternyata itu semua adalah karena kesapakatan, saudara-saudara! Saya pikir saya tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang tepat, karena siapa sih yang tau bagaimana suatu bahasa di bentuk, ya 'kan? Ternyata eh ternyata, jawabannya ada. Dan saya puas dengan jawaban tersebut!
Well, ini dia status ketiganya:
BTW, Wikipedia itu luar biasa! Guess whattt?? Saya iseng baca-baca dan saya menemukan hal luar biasa. Yah, biasanya yang menurut saya menarik, tidak menarik untuk orang lain sih hahaha, jadi hal luar biasanya adalah ini:
1. Ada dua teritori di wilayah Asia Tenggara, yaitu Christmas Island dan Cocos (Keeling) Islands, yang selama ini tidak pernah terjamah dunia kebahasamelayuan ternyata menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa di daerahnya (selain bahasa Inggris, karena mereka masuk wilayah Australia).
2. Ternyata di sana mereka juga ada yang beragama Muslim. Apalagi di Cocos Islands yang hampir 80% Muslim.
3. Di Cocos Islands itu malah lebih banyak digunakan bahasa Melayu untuk istilah-istilah di daerahnya.
Wow kan? Hahaha.
ini nih sumbernya: http://en.wikipedia.org/wiki/Southeast_Asia
Status yang ketiga ini benar-benar membuat saya tercengang lho! Udah gitu aja :D
Oke, status saya yang pertama begini:
Baru saja berwikipediaan dan saya menemukan ini, uwaaaaah.... selama ini saya tahu kalau di Indonesia itu ada banyak bahasa, tapi gak nyangka kalau Indonesia tuh seindah ini Saya cinta bahasa Indonesia, kula tresna marang basa Jawa
*rada endel, wikipedianya bahasa Inggris
http://en.wikipedia.org/wiki/Languages_of_Indonesia
Isi dari link ke Wikipedia itu adalah artikel bahwa bahasa di Indonesia itu ada banyak sekali, yang satu antara lain saling memiliki keterkaitan masing-masing. Begitu. Buka link-nya deh!
Status saya yang kedua begini:
Borneo sama dengan Kalimantan. Yep, saya sering mendengar kalimat yang seperti ini. Tapi saya sering bertanya-tanya sendiri, kenapa harus ada dua istilah untuk menyebut sebuah pulau? Pasti ada asal muasalnya 'kan ya? Nah, setelah saya berpikir ulang dan "browsing-browsing" akhirnya saya mendapatkan jawabannya.
Borneo dan Kalimantan itu memang sama. Sama-sama pulau yang terletak di kanan Sumatra dan di atas Jawa pada peta. Yah, setidaknya menurut persepsi saya sih. Bedanya, Borneo adalah sebutan internasional untuk menyebut pulau itu yang termasuk di dalamnya ada Malaysia, Brunei Darussalam, dan Kalimantan (Indonesia). Sedangkan Kalimantan sendiri adalah istilah yang digunakan untuk menyebut bagian Indonesia yang terletak di Borneo itu. Hmmmm.... Kita tidak menyebut Malaysia adalah bagian dari Kalimantan 'kan ya?
Status yang ini saya tulis berkat pengalaman saya sendiri. Saya juga tipe orang yang selalu bertanya hal-hal aneh yang tidak pernah saya tanyakan kepada orang lain dan menyimpannya sendiri. Lalu suatu hari, akan saya cari jawaban tersebut melalui buku maupun internet. Sedikit curhat, saya dulu sebelum kuliah sangat penasaran dengan asal muasal bahasa. Bagaimana suatu kaum bisa berbahasa demikian, dan bangsa itu berbahasa begitu. Saya tanya deh ke dosen waktu di kelas, ternyata itu semua adalah karena kesapakatan, saudara-saudara! Saya pikir saya tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang tepat, karena siapa sih yang tau bagaimana suatu bahasa di bentuk, ya 'kan? Ternyata eh ternyata, jawabannya ada. Dan saya puas dengan jawaban tersebut!
Well, ini dia status ketiganya:
BTW, Wikipedia itu luar biasa! Guess whattt?? Saya iseng baca-baca dan saya menemukan hal luar biasa. Yah, biasanya yang menurut saya menarik, tidak menarik untuk orang lain sih hahaha, jadi hal luar biasanya adalah ini:
1. Ada dua teritori di wilayah Asia Tenggara, yaitu Christmas Island dan Cocos (Keeling) Islands, yang selama ini tidak pernah terjamah dunia kebahasamelayuan ternyata menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa di daerahnya (selain bahasa Inggris, karena mereka masuk wilayah Australia).
2. Ternyata di sana mereka juga ada yang beragama Muslim. Apalagi di Cocos Islands yang hampir 80% Muslim.
3. Di Cocos Islands itu malah lebih banyak digunakan bahasa Melayu untuk istilah-istilah di daerahnya.
Wow kan? Hahaha.
ini nih sumbernya: http://en.wikipedia.org/wiki/Southeast_Asia
Status yang ketiga ini benar-benar membuat saya tercengang lho! Udah gitu aja :D
20 Agu 2014
Benarkah Membunuh Halal?
Beberapa saat yang lalu saya membaca sebuah tulisan di
kompasiana, kalau tidak salah judulnya adalah “Muslim vs Yahudi, Kita
Kehilangan Akal Sehat?”. Di dalam tulisan tersebut kurang lebih di bahas
tentang pembunuhan masal yang terjadi di Syria dan Gaza. Intinya, ada
ketimpangan antara pemberitaan dan reaksi masyarakat Indonesia terhadap apa
yang terjadi di Gaza dan Syria tersebut. Sama-sama ada peperangan, sama-sama
ada pembantaian masal, akan tetapi kejadian yang di Syria tak mendapat sorotan
dan seakan bukan masalah bagi masyarakat Indonesia, sedangkan di Gaza, langsung
mendapatkan feedback luar biasa di masyarakat Indonesia. Dalam tulisan
tersebut, sang penulis juga bertanya, “Apakah gambar tersebut benar?”. Sekedar
info, sang penulis menulis tulisan tersebut berdasar sebuah meme yang
mengatakan bahwa 170.000 Muslim dibantai oleh Muslim tidak ada yang bergolak,
tetapi 100 Muslim Gaza dibantai Yahudi bergolak. Penulis juga mengatakan di
dalam artikelnya, “Apakah jika Muslim kepada Muslim lainnya saling bunuh adalah
‘halal’ sedangkan jika Muslim dibunuh agama lainnya ‘haram’?
Baik, sekarang saya menjawab pertanyaan dari penulis tulisan
tersebut. Gambar tersebut benar. Ya, memang benar, di Syria telah terjadi
peperangan saudara yang sudah berlangsung lebih dari satu tahun dan menewaskan
banyak warga bahkan lebih dari 170.000 orang. Bagi Anda yang belum tahu, peperangan
di Syria tersebut terjadi karena ada permusuhan antara dua golongan Islam
terbesar di dunia yaitu Sunni dan Syiah. Jika Anda masih bertanya-tanya mengapa
antar dua golongan Muslim saling berperang? Jika saya menjelaskan akan sangat
panjang. Jadi, sudah saatnya Anda mendalami lebih dalam lagi sejarah munculnya
Syiah dan Sunni dalam ajaran Islam. Memang, di dalam Alquran pun sudah
diramalkan akan kemunculan golongan-golongan di dalam Islam. Errr.... saya
tidak akan menjelaskan perbedaan antara Syiah dan Sunni di sini, karena isu ini
sangat sensitif dan bisa merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Ada baiknya Anda
mencari tahu sendiri.
Inti tulisan saya adalah di dalam Islam tak pernah diajarkan
untuk membunuh, baik membunuh kaum seagamanya maupun membunuh kaum lain agama.
Di dalam Alquran sendiri telah dijelaskan dalam surat An-Nahl ayat 125 bahwa
jika berdebat dengan musuh haruslah menggunakan bahasa yang baik dan harus ada
hikmahnya, bukan malah menjelek-jelekkan. Alquran juga mengajarkan untuk
membalas ‘serangan’ musuh dengan balasan yang setimpal dan adil: bukan lebih.
TAK PERNAH ADA SATU AYATPUN DALAM ALQURAN YANG MENYURUH
UNTUK MEMBUNUH. Memang, benar ada di dalam Alquran yang mengatakan bahwa
membunuh orang kafir adalah halal. Akan tetapi, kita tidak bisa mengambil satu
ayat itu secara terpisah dan dikutip secara serampangan. Orang kafir yang
dimaksudkan adalah orang kafir yang jelas-jelas telah menyerang dan
menghancurkan orang Islam. Jika orang itu berteman karib dengan kita dan tak
pernah berniat merusak kita, mengapa harus diperangi? Itu sangat tidak
manusiawi. Bahkan pada masa kekhalifahan Abbasiyah di masa lampau, Raja juga
memperkerjakan orang-orang non-Muslim kok. Sekali lagi, kita tidak bisa
mengambil ayat itu secara sembarangan, karena masih ada ayat lain yang sudah
saya jelaskan pada paragraf sebelumnya. Membunuh adalah langkah terakhir
jika pendekatan untuk berbicara baik-baik dengan cara apapun sudah tidak mempan
lagi.
Wallahu A’lam
Terkenang Simbah
Tak pernah kusangka, hari raya menjadi sebuah hari yang
sangat berbeda tanpa kehadiran mereka berdua: kakek dan nenekku.
Awal tahun ini, di masa liburan semester perkuliahanku,
secara tiba-tiba keluarga kecil kami mendapatkan telepon dari kerabat yang
rumahnya berdampingan dengan kakek. Katanya, kakek jatuh dan tak sadarkan diri.
Keluarga kecil kami panik takut ada apa-apa dengan kakek. Ibu dan Bapak yang
waktu itu tengah bersiap-siap untuk sebuah acara, langsung membatalkan acara
itu dan bergegas menuju rumah sakit. Di rumah sakit, dokter mengatakan kakekku
mengalami stroke. Entah stroke itu akibat dari jatuhnya, ataukah sebab dari
jatuhnya. Kakekku koma, tak membuka mata sama sekali. Yang kutahu bahwa di
masih ada adalah nafasnya yang memburu dengan bantuan alat pernafasan serta
sebuah alat pendeteksi detak jantung (aku tidak tahu namanya) yang masih
berbunyi “tut tut tut”. Tiga hari kakekku di rumah sakit, aku pergi mengunjunginya.
Hanya berselang beberapa menit setelah kedatanganku, nafas kakek tersengal dan
alat pendeteksi detak jantung berbunyi “tut” panjang. Tak ada diagram yang
seperti gunung lagi, semuanya seperti dataran: lurus. Beberapa detik kemudian,
dokter dan perawat-perawat berlarian menuju ruang kakek dan memberi alat kejut.
Satu, dua, tiga. Satu, dua, tiga. Begitu mereka menghitung. Aku pun tak pernah
menyangka, saat itu aku berada tepat di depan Izrail yang sedang mengambil
nyawa kakekku.
Pertengahan tahun ini, tepat pada hari terakhir Ujian Akhir
Semester (UAS), Bapakku telepon. Katanya, nenek pingsan dan tak sadarkan diri:
persis dengan kejadian kakekku. Bapak memintaku pulang segera setelah selesai
UAS. Dia tak mengatakan apa-apa, hanya menyuruhku pulang. Tapi aku tahu, dia
khawatir nenek mengalami hal yang sama dengan kakek. Sama halnya dengan aku.
UAS-ku hari itu berlangsung satu hari penuh, maka aku langsung pulang keesokan
harinya dengan meninggalkan kamarku yang masih berantakan akibat kehebohan
tugas-tugasku di masa Minggu UAS. Apalagi alasannya jika bukan karena telepon
itu. Beberapa minggu setelah nenek di rawat di rumah sakit, nenek boleh pulang.
Nenek terdiagnosis stroke, mengalami koma, dan tetap tak sadarkan diri. Maka,
dokter mengatakan jika nenekku lebih lama di rumah sakit, dia justru akan
terserang banyak penyakit. Keluarga kami pun membawanya pulang dan dirawat di
rumah. Hari ke hari, kesadaran nenek mulai membaik: membuka mata,
menggerak-gerakkan tangan dan mendapatkan asupan makanan. Tidak lagi menggunakan
infus seperti ketika masih di rumah sakit. Keluarga kami secara berganti-ganti
mendampingi nenek. Pakdhe, budhe, paklek, bulek, cucu-cucunya, semuanya urun
tangan merawat nenek. Satu bulan semenjak pingsannya, nenek tak menunjukkan
perkembangan lebih lanjut selain membuka mata dan menggerakkan tangan. Itupun
hanya beberapa menit, tidak lebih. Hari itu, hari ke dua puluh lima, setelah
Shubuh bapakku mengunjungi nenek yang dirawat di rumah bulek. Tidak lama dia
pulang, mengganti baju dan berangkat lagi. Berselang beberapa menit, ibuku
mendapat telepon dari bapak. Ia pun bergegas menuju rumah bulek: nenek telah
tiada.
Di tahun yang sama, tahun ini, aku tidak memiliki simbah
sama sekali. Lebaran menjadi amat sangat sepi: sepi dalam makna yang sebenarnya
karena tidak ada lagi yang menjadi tujuan ‘pulang’. Di tahun lalu, lebaranku
masih ‘nyenyak’ bersama mereka. Masih juga mendapatkan THR dari mereka. Haha.
Tahun ini, sangat lain. Tak ada lagi suara ramah mereka ketika menjamu tamu dan
tak ada lagi THR untukku. Baiklah, kalimat terakhir hanya gurauan saja.
Semoga Allah merahmati mereka berdua dan memasukkannya
menjadi golongan orang-orang beriman.
Langganan:
Postingan (Atom)