8 Sep 2011

Happy Ending (part 1)



HAPPY ENDING

Sejatinya, ini adalah catatan akhir sekolah yang kubuat sebagai kado untuk kalian. Maunya, cerita-cerita sendu yang bakal mengurai banyak air mata haru karena kita akan meninggalkan masa-masa sekolah (aminn). Eh, malah jadinya cerita fiksi yang ga bener banget. Haha, maaf ya kawan-kawan. Yuk baca, moga-moga asik.. tolong komentarnya juga ya. . . Terima kasih sebelumnya!!!.

Sabtu, 12 Februari 2011
Suasana sekolah, menyeramkan.Tak ada siswa kelas XII yang berkeliaran. Terutama di Lorong kelas XII. Sepi, bak tanpa penghuni. Aku berdiam diri sendiri disini mengamati keadaan sekolahku. Aku melihat anak-anak kelas X yang menunduk hormat karena ada senioritas dari kelas XI di lapangan tengah. Si Anak kelas XI membentak adik kelasnya itu, lalu memerintah sesuka hati. Payahnya, si Adik tunduk hormat menuruti perintah kakaknya. Hei, mereka cuma sok senior kok. Masih sama-sama ingusan. Mereka sok karena memang ada acara penempuhan Kartu Tanda Anggota ekstra Pers Jurnalistik. Dulu, aku dan kawan-kawanku juga mengalami dua periode itu. Tersiksa dan menyiksa. Haha, lucu jika mengenangnya.
Aku bisa melihat semuanya. Apapun yang dilakukan oleh juniorku. Ada siswa yang melempar, berebut, memantul bola basket di Lorong bangunan. Tertawa, saling bercanda. Riuh ramai. Sangat bertolak belakang dari tempat aku memandang disini. Tak ada orang. Hanya beberapa siswa yang berkeliaran memanfaatkan fasilitas hotspot.
Selain sepi, keadaan sore ini juga terasa mengharu biru. Aku berspekulasi demikian karena dari pagi tadi tidak ada sinar matahari yang terasa membakar kulit. Semuanya kalem, seperti diperintahkan untuk membuat suasana demikian menyedihkan. Apalagi tidak ada kawan-kawan seangkatanku yang rela jaga sekolah seperti adik-adik kelasku itu.
Aku memperhatikan adik kelasku lagi. Anak-anak kecil itu sedang mempersiapkan kelas untuk lomba kebersihan antar kelas. Mereka kompak. Dulu kami juga begitu. Sekarang, tak ada yang perduli. Semua sibuk dengan belajarnya. Well, Aku juga seperti itu. Bel pulang berbunyi, lorong kelas XII sepi. Itu kenyataanya.
Menakutkan. Ketika suatu saat nanti aku mendapati kenyataan bahwa di Lorong yang panjang ini, Aku melihat banyak anak yang berkeliaran. Bukan kami. Tapi anak-anak kecil itu, pengganti kami. Bukannya aku ingin terus berseragam abu-abu, Tapi aku sulit melepaskan aturan-aturan yang sudah terlanjur melekat di kebudayaan hidupku selama empat belas tahun terakhir. Ya, itu adalah saat dimana Aku berada di bangku sekolah.
Kebudayaan ini serasa kewajiban dari sebuah peta kehidupan. Susah untuk meninggalkan sesuatu yang sudah ada selama sepertujuh abad. Aku mengingat semuanya, sejarah kebudayaan ini diawali dengan masuknya aku ke sebuah Sekolah. Bukan sekolah sebenarnya, karena namanya adalah Taman Kanak-Kanak.  Disini aku mulai mengenal huruf, angka, warna, nada dan rupa. Lalu SD, SMP, dan SMA ini aku mengenal kedisiplinan, keteguhan, kejujuran, kebohongan, kebaikan, kejelekan dan berbagai makna yang menyejukkan hati. Hahaha.
Aku menegakkan punggung lalu menghirup nafas dalam-dalam. Hujan akan segera turun. Angin bertiup sangat keras. Burung-burung berkicauan. Daun kering pohon kelengkeng terbang tertiup angin jatuh ke teras kelas. Indah. Aku memutuskan untuk pulang ke Rumah.

* * *
Senin, 11 April 2011
“Lari lari lari,” teriak bapak ibu guru tatib. Mereka adalah guru-guru penghukum siswa yang terlambat. Selalu siap sedia di lobi depan sebelum bel berbunyi. Tegap, sigap dan membuat siswa megap-megap kehabisan nafas.
“Lari..,” Pak Dahlan berteriak menyuruh kami, golongan orang-orang yang terlambat untuk segera berlari. Lalu meniup peluit dengan keras untuk menghalau siswa-siswa yang terlambat. Aku termasuk didalamnya.
Ada banyak bapak ibu guru tatib. Diantaranya, Bu Nurlaili, Bu Hindun, Pak Dahlan, dan emm aku tak terlalu melihat karena depresi berat. Harus berlari, itu syarat supaya tidak terlambat pada jam-jam seperti ini.
 Ku ikat tali sepatu kuat-kuat. Betulkan letak tas dan kerudungku. Tarik nafas dalam-dalam. Kerahkan segenap kekuatan yang ada lalu lari dengan penuh tenaga. Kurasa Aku sudah bisa mengalahkan kecepatan lari seekor cheetah, hewan tercepat di Dunia. Aku menerobos barisan barikade bapak-ibu guru tatib, lalu masuk gerbang. Lolos, yeah.
Aku berjalan menuju ruang kelasku. Tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat. Kelasku tepat berada di tengah-tengah lorong. Aku melewati banyak ruangan kelas sebelum mencapai kelasku. Aku masih tetap berlari jika tidak melihat banyak anak berkeliaran, ini sudah masuk apa belum sih. Aku sudah negative thinking. Karena aku berfikir bahwa ini belum bel. Feeling-ku ternyata benar karena beberapa detik kemudian…
TEET.TEET.TEET.
“Wealahhh,” Tepat saat aku berada didepan ruang guru, bel berbunyi. Sudah ngos-ngosan begini ternyata baru bel. Menyebalkan, memang. Tapi apa boleh buat, yang sabar aja yah!. Makanya kalau berangkat pagian, batinku. Aku tersenyum sendiri.
* * *
Lantunan ayat suci Al-Qur’an beralun keseluruh penjuru sudut sekolah. Hemm, ini yang sulit ditemui diluaran sana. Aku menuju kursiku, lalu ikut melantunkan ayat suci Al-Qur’an bersama dengan teman-temanku kelas XII-IPA 2. Sudah dua tahun ini kami berada di kelas ini. Mereka bukan teman yang baik. Lihat, sudah waktunya membaca Al-Qur’an begini malah membuka bungkusan nasi. Ha ha. Mereka teman yang lebih dari baik kok. Gawat darurat abis. Makanya, nama kelas kami IGD. Singkatan dari Ipa Gang Dua. Ciptaannya Bang Jack, salah satu penduduknya IGD juga.
* * *
“Assalammu’alaikumm…,” Bu Diah, guru biologi kami, sekaligus wali kelas kami memberi salam mengawali pelajaran.
“Wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh.. Bismillahirrohmanirrohiim” Sahut kami, ini juga kebiasaan di sekolah kami, membaca basmallah sebelum mengawali pelajaran.
 “Ada PR nak?” Tanya Bu Diah.
“Tidak ada Bu…,” Jawab kami berbarengan. Eh, itu tadi jawaban bohong yang sudah kami rancang sepulang dari solat dhuhur tadi lo!. Karena teman-teman tadi memang ngaku belum mengerjakan PR . Kejadian ini tak akan bertahan lama karena ada beberapa siswa yang mempunyai tingkat kejujuran yang tinggi akan mengatakan yang sebenarnya.
“Ada Bu… .,” Teriak Harys jujur. Ini anak pasti sudah mengerjakan PR.
“Oh iya.. ada yang kemarin itu lo nak.. Yang belum mengerjakan siapa?” Tanya bu
Diah.
Kami yang belum mengerjakan dengan semangat mengacungkan tangan. Separuh dari siswa kelasku mengangkat tangan. Lhoh, kok cuma sedikit, katanya tadi pada belum ngerjain. Ah curang nih anak-anak. Tenang, ini tidak akan bertahan lama kok. Biasanya kalau seperti ini PR tidak akan dinilai karena akan dibahas bersama.
“Ya sudah..,” Kata Bu Diah. Ya Allah tolong kabulkan doa kami. PR tidak dinilai. Amin.
“Yang belum mengerjakan PR silahkan keluar dari kelas dan mengerjakan PR di Perpustakaan ditambah merangkum reaksi gelap dan terang fotosintesis,” Lanjut Bu Diah. What!!??. Ah, dugaanku salah nih.
“Tapi Bu..,” Kata Aisyah, orang yang paling suka protes.
“Tidak ada tapi-tapian. silahkan, keluar kelas,” terang bu Diah.
Aku dan separuh orang temanku pergi meninggalkan kelas dengan membawa buku dan alat tulis.
* * *
Aku mencari referensi untuk tugasku. Aku mencari buku yang tebalnya lebih dari lima senti. Judulnya, aku lupa. Kembel, Kembul, Kambel. Ah, pokoknya itu yang warna hijau. Setelah menemukan buku itu, aku segera mengerjakan tugas bersama kawan-kawan sependeritaanku. Orang-orang yang menghindari tanggung jawab. Dasar pemalas, pikirku. Kalian ini mau jadi apa? Diberi tugas sedikit saja tidak dikerjakan. Bagaimana kalian bisa menghadapi tantangan global? Kalau sudah jadi orang nanti, apa yang kalian lakukan untuk masyarakat ha?. Apa malah korupsi?. Negara kita tidak akan bisa maju jika pemudanya seperti kalian ini. PR saja tidak dikerjakan. Lain kali dikerjakan ya PR-nya. Aku tersenyum. Dasar sok menggurui. Aku tak ada bedanya dengan anak-anak ini. Haha.
Ada sekitar dua puluh kantung beras tergantung di mataku (Kok beras sih?). Aduh, ngantuk. Padahal aku masih dapat lima baris.
“Pada fotofosforilasi non siklis dihasilkan…… uwahmm”, Kataku terbata-bata. Lalu diam.
“Dil, ngantuk ya? Jalan-jalan yuk”. Suara Nafia mengagetkanku. Dia berdiri disamping mejaku dengan berkacak pinggang, kakinya dibuka lebar, lalu kerudungnya berkibar. Kayak superman aja, haha.
“Kemana? tugasku belum selesai nih” Jawabku.
“Santai aja ah, Ikut nggak? Banyak kok yang ikut, ada Aisyah, Defrizal, Idhoh, Yuslisul, Aku, Rosyi, kau ikut?”, tanyanya meyakinkanku.
Aku diam.
Yuslisul langsung menarik tanganku begitu saja keluar dari Perpustakaan. Tanpa memakai sepatu, aku dan teman-temanku berkeliling sekolah, mengendap-endap. Kami mendatangi gudang yang tidak terpakai dibelakang laboratoriumnya pak Mujarno.
Pintu masuknya sudah reyot, tidak ada pintu, Cuma kelambu, sangat kotor. Ada banyak baju yang berserakan, juga kotor. Ada lemari, meja, kursi, dipan, semuanya kotor dan dipenuhi sarang laba-laba.
TOK.TOK.TOK. KROAAAKK.
Ada suara yang mengagetkanku yang berasal dari…… emm aku tidak tahu. Aku berkeliling mencari asal suara itu. Aku membayangkan ada sebuah peti yang isinya adalah Dementor. Berterbangan, tidak mempunyai wajah, menghisap semua kebahagiaan, semua menjadi membeku lalu kebahagiaan itu hilang. Helloo, itu tidak mungkin terjadi, dementor itu kan cuma hidup di dunianya Harry Potter. Aku melamun lagi. Apakah ini Mummi seperti yang ada di Mesir? Yang tiba-tiba hidup lagi lalu mencekik kami semua yang ada disini. Ah, tidak mungkin juga.
Aku melihat keseluruh ruangan. Dan, ahaa itu dia asal suaranya. Sebuah peti sebesar meja kerjanya tuan krab. Aku bergidik.
“Yus..”, teriakku memanggil Yuslisul.
“Nyapo??” tanyanya.
Aku menunjuk kearah peti. Yuslisul memanggil kawan yang lain untuk melihat peti. Tidak bisa dibuka. Akhirnya, Aisyah dan Idhoh mengambil kayu yang berserakan untuk membuka peti itu dengan metode tuas. Berhasil. Peti itu terbuka. Lalu, keluar dari dalamnya laba-laba yang sangat besar, mirip dengan Aragog, laba-laba di filmnya Harry potter.
“Aaaarrggghhhhhh……,” Rosyi berteriak hebat. Dia itu mengidap Spiderophobia. Rosyi pingsan melihat laba-laba itu. Kami mengangkat Rosyi.
Aku tidak heran dengan ekspresi Rosyi. Dulu, saat kelas satu Aku pernah menakut-nakutinya dengan laba-laba. Aku memang sedikit jahil. Akibatnya, dia menangis hebat dan marah. Sudah tiga tahun berlalu pun dia masih ingat.
Kami berlari keluar dari gudang itu. Kami bersembunyi di laboratorium kimia yang sedang terbuka. Kami masuk kedalamnya. Bu Dewi sedang menunjukkan proses eksoterm dari magnesium jika dicampur dengan asam klorida. Bu Dewi ikut kaget melihat kami berlari dengan wajah merah padam ditambah dengan Rosyi yang sedang pingsan.
“Idhoh ketinggalan di Gudang,” Kata Aisyah bernafas dengan terengah-engah lalu merebut kursi dari anak kelas XI yang sedang praktek kimia.
“Apa, aduh, bagaimana ini, ka kalau dimakan laba-laba itu bagaimana atau air liurnya mengandung HCl yang langsung membakar tubuh Idhoh bagaimana?,” Defrizal ketakutan.
“Huss ojo ngono to!”, kata Yuslisul menenangkan. “Naf, ayo marani Idhoh,” Lanjutnya. Yuslisul suka memakai bahasa Embah-nya.
Nafia yang biasanya sangat penakut, hari ini terlalu pemberani. Dia tidak terlihat takut. Dia langsung mengangguk lalu bergegas keluar bersama Yuslisul.
“Jangan….,” teriakku. Lalu kuhentikan teriakanku karena tidak ada gunanya. Mereka sudah keluar.
Tinggal kami berempat yang berdiam diri. Bu Dewi masih kebingungan melihat kami. Kami yang diajak bicara pun hanya menunjukkan wajah shock yang tidak bisa diajak bicara. Pikiran kami sama. Laba-laba setinggi tiga kaki. Mata fasetnya melihat kami dengan tatapan yang menusuk seperti hidangan yang tinggal santap. Kakinya berbulu sangat banyak. Di bulu-bulunya itu berdiam belatung berwarna hitam yang gemuk-gemuk. Pantas saja Rosyi langsung pingsan.
“Uhhuuk..” Rosyi terbatuk sadar. Aku membantunya duduk. Lalu menyuruhnya untuk tetap di Laboratorium.
Defrizal mengajak Aisyah, dan Aku menyusul Nafia dan Yuslisul ke Gudang. Sepertinya, dia ikut khawatir
Jarak antara laboratorium dan gudang itu tidak terlalu jauh. Kami hanya butuh beberapa detik untuk menacapai gudang. Disepanjang jalan kami terus berdoa untuk keselamatan ketiga teman kami.
“Bismillahirrohmanirrohiim..” Kata Aisyah memasuki gudang.
“Mana Laba-laba itu?” Tanya Defrizal.
Tiba-tiba ada suara yang mengagetkan bergerak dari belakang lemari besar yang ada di ujung gudang. Suara itu semakin keras. Lalu ada suara langkah kaki bergerak menuju arah kami. Aku bergerak mundur. Suara itu semakin mendekat, sekitar ada delapan orang yang melangkah.
“Ada apa kalian kemari?” Suara seorang perempuan. Semakin lama semakin mendekat lalu terlihatlah wajahnya.
* * *
Itu Intan. Teman kami juga. Dibelakangnya ada banyak orang lagi. Lebih banyak dari rombongan kami tadi. Dugaanku sedikit meleset. Ada sembilan orang disini.
“Ternyata kalian? kalian juga ikut? Tadi kenapa tidak mau?” Aisyah bertanya kepada segerombolan kawan didepan kami.
“Apa? ulangin lagi dong. Pede banget lo! Siapa juga yang mau ikutin kalian, harusnya gue yang nanya, kenapa kalian disini. Hanya kami bersembilan yang boleh datang kemari. Apa kalian yang sudah membebaskan peliharaan kami itu?” Sanggah Rahmat.
“Hei, ada apa ini?”, Tanya Defrizal dengan logat jawa yang kental.
“Kau juga ikut Deffy? pergi noh sama nyokap lo jadi sinden ha ha ha!”, teriak Rina lalu terbahak.
Mereka semua yang ada disini adalah teman-temanku yang juga belum mengerjakan PR. Tadi semuanya ada di Perpustakaan. Cepat sekali mereka sampai disini.
“Kalian yang melepaskan Violette? Kurang ajar, dasar tidak tahu diri,” tambah Icha, dia juga ikut rombongan sembilan orang itu.
“Apa-apaan ini?, Desinta!!” teriak Aisyah lalu membentak Desinta, sahabat karibnya. Desinta hanya memicingkan mata, mengejek Aisyah.
“Ah, kenapa kau berteriak begitu ‘is, ini kan aku temanmu. Kenapa kau membentakku seperti itu? AKU BUKAN KACUNGMU,” Balas Desinta dengan tinggi nada yang kukira itu sopran.
“Maaf, Violette itu siapa ya?” tanyaku memecah emosi teman-teman.
“Kau tanya siapa Violette, La?” sambut Intan. Lalu berputar kebelakang dengan bertumpu pada kaki kirinya. Dia menjetikkan tangan, isyarat untuk Yuni -asisten paling setianya- supaya menerangkan siapa Violette.
“Violette itu laba-laba peliharaan kami, yang sudah kalian lepaskan tadi. Awalnya dia laba-laba biasa, tapi dengan percobaan Sembilan orang kami disini, yaitu, Intan, Rina, Icha, Daman, Duandy, Desinta, Rahmat, Zulmi, dan Aku, dia berubah menjadi laba-laba yang besar dan menyeramkan”, terang Yuni.
“Kenapa kalian membuat percobaan ini? Apa untungnya bagi kalian? Kenapa kalian berubah jadi jahat kepada kami? Mungkin kami bisa bantu?”, Aku mengintrogasi teman-temanku itu.
Yuni melirik kepada delapan orang dibelakangnya itu. Desinta terlihat menggelengkan kepala.
“Untuk semua pertanyaan yang kau ajukan tadi, aku menjawab tidak. Hanya kami Ninewonders yang mengerti masalah ini”, lalu Yuni dan Ninewonders itu pergi masuk lagi kearah mereka muncul tadi.
Ninewonders? Apa-apaan ini? Memangnya ini film kartun?
“HEI DIMANA MEREKA BERTIGA?” teriak Defrizal menghambat langkah kaki Ninewonders.
“Itu kesalahan mereka karena masuk kedalam laboratorium kami tanpa izin”, jawab Rahmat.
Defrizal terduduk lemas ditanah melihat kenyataan yang demikian ini. Tiga orang temannya ditawan oleh Ninewonders yang notabene juga teman-temannya satu kelas.
***
Aku duduk bersandar tiang didepan laboratoriumnya pak Mujarno.
“Lalu, apa yang bisa kita lakukan teman-teman?” Tanya Aisyah.
“Jadi detektif saja..”, kataku.
“Maksudmu?”
“Ya, kita akan menyelidiki dimana Ninewonders itu menyembunyikan Nafia, Yuslisul dan Idhoh lalu kita juga menyelidiki mengapa mereka membuat Violette. Mereka pasti punya tujuan khusus mengapa menciptakan makhluk seperti itu.”
“Kita cuma bertiga, mereka bersembilan. Apa kita bisa?”
“Kita ber-dua puluh delapan.”
“....”
“Ya, kita bertiga ditambah teman-teman yang ada dikelas dua puluh empat orang dan juga Rosyi”.
“Benar juga, tapi bagaimana bisa kita memanggil mereka? Sekarang ini kan waktunya kita untuk mengerjakan tugas gara-gara tidak mengerjakan PR”.
“Kalau begitu, kita tidur saja dulu sampai pulang sekolah”, aku menyandarkan kepalaku ketembok lalu memejamkan mata.
Walaupun begitu, aku tidak tidur. Mana mungkin disaat-saat seperti ini aku tidur. Aku berfikir tentang masalah temanku yang diculik oleh temanku. Bagaimana cara menemukan mereka ya?
“La?”, Aisyah memanggilku. “Kau sudah tidur?”, Aku diam saja, lalu mengangguk.
“Hei, mana mungkin orang tidur bisa denger bisa ngangguk?”
“Huahahaha...aku tak bisa tidur. Kita buat strategi saja deh, kalian punya ide?”
Aisyah dan Defrizal terlihat serius berfikir. Aisyah memejamkan mata sambil mendongak kelangit dan menggigit jarinya. Lalu Defrizal mencubiti pipinya, lalu sekali-kali menengok kekiri dan kekanan. Cukup lama mereka ada dalam posisi itu. Pose-nya pun berubah-ubah. Ketika Aisyah menjulurkan lidahnya, maka Defrizal menjungkirkan kepalanya. Hingga pada suatu saat mereka menjentikkan tangan bersama-sama. Sepertinya mereka sudah menemukan strategi itu.
“Aku dulu yang bicara”, kata Aisyah.
“Aku dulu”, Defrizal tak mau kalah
“Aku dulu”
“Aku dulu”
“Aku dulu”
......
Mereka berdua saling ngotot untuk menunjukkan ide masing-masing. Defrizal dengan bola mata yang membesar dan memoncongkan mulut sambil memasang kuda-kuda untuk melawan Aisyah. Aisyah sendiri tak mau kalah, dia mengeluarkan jurus seribu bayangan-nya lalu mengeluarkan Rasengan.
Mereka berdua beradu dan berteriak, lalu saling melemparkan jurus.
“Aaaarrrrgggghhh”, teriakku.
“Batu, kertas, gunting” kata mereka berdua serempak. Sambil memajukan tangan untuk diadu dengan lawan.
“Ah, sama, Batu Kertas Gunting... Batu Kertas Gunting....”
Ngomong-ngomong masalah jurus yang dilemparkan tadi, mereka melemparkannya kepadaku yang tidak siap apapun. Sepertinya, aku tadi dalam posisi yang tepat untuk disiksa macam ini. Aku berjalan tertatih-tatih.
“La, kau tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa bagaimana? Lihat kakiku, tanganku, kerudungku, bajuku, wajahku, sepatuku hilang”
“Ah, Cuma gosong begitu saja kan? Memangnya kau tadi kesini pakai sepatu?”
“Tidak sih, tapi mana bisa kalian memperlakukanku seperti ini? Tanggung jawab!!!”
“Alaaahhh... kita selamatkan tiga teman kita saja dululah”
“Eerrrrrggg”
***
“Apa rencanamu?”
“Kita pakai umpan, jadi kita menyuruh satu orang teman kita yang ada dikelas untuk masuk ke gudang itu, nanti kita akan melihat kemana dia akan dibawa pergi. Seharusnya, tempat diamana dia disekap adalah tempat yang sama dengan ketiga teman kita yang terdahulu disekap bukan?” Defrizal menerangkan.
“Ya, kau benar, lalu, kita tentukan siapa orangnya.”
“Aku tahu siapa orang yang tepat untuk misi ini, bagaiamana, kalau Harys saja? Sekalian kita kerjain dia, kan gara-gara dia kita dikeluarkan dari kelas tadi?” kata Defrizal.
“Terserah kau sajalah, tapi jangan sampai dia merusak rencana kita”
“Beres”
“Eh, teman-teman, mau kemana? Titip siomay dong!!”

***

Waktu untuk melaksanakan rencana telah tiba, bel pulang sekolah sudah berkumandang. Harys segera kami panggil untuk misi ini. Tak lupa kami berbicara didepan kelas untuk mengajak teman-teman yang lainya untuk ikut berpartisipasi dalam masalah ini.
“Tadi Bu Diah nyari kita-kita nggak?”
“Ya jelaslah, udah waktunya pulang gitu kalian belum pada nyelesaiin tugas. Kemana aja sih?” Tanya Mbah Puji.
“Panjang ceritanya. Eh, kita ada misi nih, ikut ya?” Kataku.
“Baiklah, tapi tugasmu?”
“Bagus, misimu adalah... tolong kerjakan tugas biologi kami ya? Plisss.... ada suatu hal yang harus kami lakukan dan ini menyangkut tiga buah nyawa, tolong kerjakan tugas kami ya...” Pintaku pada Mbah Puji memelas.
“16 orang?? Kalian tadi 16 orang yang keluar, jadi aku mengerjakan 16 tugas? Yang benar saja?”
“Benar” Ika memotong pembicaraan kami. “Mari kita siapkan 16 orang untuk membantu menyelesaikan tugas teman-teman.”
“Wah... kau baik sekali.. Terima kasih ya” Ucapku dengan mata yang berbinar-binar.
“Tak masalah, aku sudah membicarakan masalah ini dengan Aisyah barusan. Tiga orang IGD adalah yang terpenting saat ini. Ditambah sembilan orang yang kalian harus kembalikan jiwanya, supaya kita tetap satu jiwa”, kata Ika.
“Mari kita siapkan enam belas orang itu”, kata Mbah Puji.
Rosyi yang ketakutan dengan laba-laba tadi, menawarkan diri untuk ikut membantu menyelesaikan tugas dari bu Diah. Kukira dia tidak akan membantu, tentu saja dia akan mengerjakan tugas miliknya sendiri, sedangkan tugas kami yang lain diambil alih oleh kawan-kawan yang lain.
Ke-15 orang yang ikut menyelesaikan tugas biologi itu adalah, Ika, Puji, Roja, Reni, Bibah, Alfin, Irun, Ifa, Danis, Asruria, Dewi, Fatih, Fifi, Tika,dan Zen. Mereka menawarkan diri mereka sendiri untuk ikut menyelesaikan tugas.

------------------------------bersambung------------------------------------------------------------------


















Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Minta komentarnya dong, Kak! :)