12 Okt 2014

Menjejak Diesna UM Tahun Keempat


Mengenang kenangan dengan berfoto? Ah, sudah biasa.
Mengenang kenangan dengan tulisan? Mengapa tidak? Toh, ketika belum ada dunia fotografi, orang-orang di zaman dahulu mencetak sejarah dengan tulisan. Dan itu, worth banget!

Hari ini, tepatnya tanggal 12 Oktober 2014 adalah hari peringatan Dies Natalis kampus saya Universitas Negeri Malang, yang ke 60. Dan tidak pernah saya duga akan hadir secepat ini. Rupanya, ini adalah Diesna keempat yang saya ikuti semenjak saya dinyatakan diterima di kampus ini. Tak banyak berubah. Masih dengan jalan sehat, pembagian doorprize (yang saya tidak pernah dapat), hingga tampilan band-band lokal yang menggoyang awak kampus UM selepas berlelah-lelah jalan.

Diesna pertama yang saya ikuti adalah saat saya masih (sangat) junior di kampus. Masih semester satu. Masih bau seragam abu-abu. Masih kangen-kangennya dengan ibu. Ketika itu, saya menikmati diesna ini bersama dengan teman-teman Asrama Mahasiswa UM. Baik putra maupun putri. Satu kata yang bisa saya ungkapkan kala itu adalah SERU! Kami semua memakai kaos berwarna sama dan sepanjang jalan meneriakkan yel-yel serta mars asrama. Ampun deh, kalau sekarang saya ingat masa itu saya merasa malu. Kok bisa ya, dulu seperti itu... Hahaha. Seperti anak SMA saja.

Diesna kedua yang saya ikuti, tahun 2012, saya masih bagian dari keluarga asrama UM. Kali ini saya sudah tidak bau seragam abu-abu lagi. Sudah setingkat lebih tinggi. Walaupun badan sudah tak bisa tinggi. Di tahun 2012 itu, saya mengulangi hal yang sama dengan tahun 2011. Mengenakan seragam yang sama, sepanjang jalan menyanyikan yel dan mars asrama. Bersenda gurau dengan teman dan adik asrama. Hingga berfoto bersama rektor UM.

Diesna ketiga, saya masih junior, tapi lebih senior. Tapi ada yang lebih senior lagi. Hahaha. Intinya sih, masih ada yang lebih tua di atas saya dan kawan-kawan seangkatan. Tahun itu, saya sudah tidak di asrama lagi. Tapi bau-bau asrama masih menyelimuti kami. Bagaimana tidak, sepanjang jalan, yang kami temui adalah mahasiswa-mahasiswa berkaos "Asrama" yang memanggil kami dengan 'Mbak'. Lalu pada akhirnya, kami bergabung lagi dengan warga-warga asrama.

Sepertinya, asrama memang tidak pernah lepas dari kehidupan saya (dan kawan-kawan). Kawan-kawan itu siapa saja? Yang jelas, ada.

Diesna keempat, tahun ini. Tahun puncak saya dengan jabatan mahasiswa UM. Barangkali tahun depan sudah tak kami miliki lagi KTM bertuliskan Universitas Negeri Malang yang kerap kami gunakan untuk masuk ke perpustakaan itu. Sebetulnya, saya tidak ada rencana sama sekali untuk mengikuti jalan santai hari ini. Lelah. Tuntutan-tuntutan  demi menyandang gelar sarjana begitu mencekik. Tapi pada akhirnya saya putuskan untuk mengikuti diesna hari ini. Saya tidak bisa merasakan jabatan mahasiswa setiap hari, lagi pula. Kapan lagi saya bisa mengikuti agenda kampus? Iya kan? Dan tidak saya sangka, ternyata banyak orang yang saya kenali (dari asrama, lagi hahaha) mengikuti jalan sehat ini. Awalnya kami datang secara terpisah tetapi ketika berjalan, seorang demi seorang yang datang dari masa-masa di asrama hadir di depan mata. Yang awalnya kami hanya kelompok kecil, menjadi kelompok besar lagi. Tapi tidak menyanyikan yel dan mars asrama lagi. Malu.

Yeah, akhirnya lengkap sudah. Empat tahun penuh saya mengikuti diesna dengan rajin. Dengan orang-orang yang sama namun dengan kondisi yang berbeda.

ALR, 12 Oktober 2014

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Minta komentarnya dong, Kak! :)